<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>BIAWAK</title>
	<atom:link href="http://fkui02.net/biawak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fkui02.net/biawak</link>
	<description>FKUI02.net mempersembahkan BIAWAK</description>
	<pubDate>Sun, 09 Nov 2008 23:49:43 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Tips Manjur Masuk FKUI a la BIAWAK</title>
		<link>http://fkui02.net/biawak/2008/11/08/tips-manjur-masuk-fkui-a-la-biawak/</link>
		<comments>http://fkui02.net/biawak/2008/11/08/tips-manjur-masuk-fkui-a-la-biawak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 05:43:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BIAWAK</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Selayang Pandang]]></category>

		<category><![CDATA[2009]]></category>

		<category><![CDATA[bem ui]]></category>

		<category><![CDATA[bimbel]]></category>

		<category><![CDATA[bimbingan belajar]]></category>

		<category><![CDATA[bop]]></category>

		<category><![CDATA[diterima FKUI]]></category>

		<category><![CDATA[fakultas kedokteran]]></category>

		<category><![CDATA[fk]]></category>

		<category><![CDATA[fkui]]></category>

		<category><![CDATA[kiat]]></category>

		<category><![CDATA[KSDI]]></category>

		<category><![CDATA[maba]]></category>

		<category><![CDATA[mahasiswa baru]]></category>

		<category><![CDATA[masuk FKUI]]></category>

		<category><![CDATA[penerimaan mahasiswa]]></category>

		<category><![CDATA[PMDK]]></category>

		<category><![CDATA[PPDD]]></category>

		<category><![CDATA[PPKB]]></category>

		<category><![CDATA[senam]]></category>

		<category><![CDATA[senamptn]]></category>

		<category><![CDATA[snmptn]]></category>

		<category><![CDATA[SPMB]]></category>

		<category><![CDATA[tips belajar]]></category>

		<category><![CDATA[ui]]></category>

		<category><![CDATA[UMB]]></category>

		<category><![CDATA[UMPTN]]></category>

		<category><![CDATA[universitas indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fkui02.net/biawak/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Tidak bisa dipungkiri bahwasanya, di manapun kita menengokkan kepala kita, misalnya di sebuah blog yang dibuat oleh mahasiswa FKUI&#8230; atau bahkan account Facebook atau Friendster atau MySpace atau apa sajalah dari seorang mahasiswa FKUI, ada saja komentar njeplak dari orang tak dikenal mengenai bagaimana cara bisa masuk FKUI1. Pertanyaan umum yang seringkali muncul dari insan-insan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak bisa dipungkiri bahwasanya, di manapun kita menengokkan kepala kita, misalnya di sebuah <em>blog</em> yang dibuat oleh mahasiswa FKUI&#8230; atau bahkan account <em>Facebook</em> atau <em>Friendster</em> atau <em>MySpace</em> atau apa sajalah dari seorang mahasiswa FKUI, ada saja komentar njeplak dari orang tak dikenal mengenai bagaimana cara bisa masuk FKUI<sup><a href="#comment1">1</a></sup>. Pertanyaan umum yang seringkali muncul dari insan-insan manusia, yang entah merasa kagum karena kenalannya akan segera mendapatkan gelar dokter, atau mungkin juga gelisah karena gagal masuk hingga akhirnya berusaha mencari celah untuk sekedar menyindir.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i5.photobucket.com/albums/y181/situ_kayak_kampang/1170911105.jpg" alt="Mahasiswa baru FKUI angkatan 2006 di RS Kusta Sitanala Tangerang" width="350" height="261" /><br />
<em>Mahasiswa baru FKUI angkatan 2006<br />
di RS Kusta Sitanala Tangerang</em></p>
<p>Akan sangat menggembirakan bila yang bertanya itu anak-anak SMA yang apabila <em>email</em>-nya dilacak balik ke <em>Friendster</em> atau <em>Facebook</em>, ternyata adalah seorang gadis muda yang memiliki sosok imut, montok dan cantik rupawan. Lebih diutamakan jika orang tersebut menyertakan beberapa buah foto dirinya mengenakan seragam SMA masa kini, lengkap dengan kemeja ketat dan rok abu-abu di atas lutut.  Lain halnya bila yang bertanya seorang bocah cowok gendut dengan wajah yang familiar dengan karakter dari dongeng JRR Tolkien, tentunya pembaca akan sangat merasa berdosa bila tidak menghapus komentar yang masuk itu.</p>
<p>Tetapi pada umumnya, pertanyaan sepele dan diduga basa-basi tersebut sesungguhnya bisa membuat mekanisme pemberian komentar sebuah post di <em>blog</em> atau <em>Friendster</em> atau <em>Facebook</em> dan sebagainya menjadi tidak efektif, terganggu, tidak sesuai topik dan cenderung menyebalkan.</p>
<p>Untuk itu, percayakanlah kepada kami BIAWAK, yang merupakan mahasiswa FKUI angkatan 2002, yang notabene sudah banyak makan asam garam kehidupan di kampus tercinta ini, untuk merangkum semua pertanyaan seputar bagaimana cara masuk FKUI dan kami akan berusaha menjawabnya sebisa dan selengkap mungkin.</p>
<p>Semoga tulisan ini manjur bagi pembaca peminat FKUI agar dapat masuk FKUI, tanpa harus REG(spasi)MANJUR segala. Tulisan kali ini <span style="text-decoration: underline;">sangat amat panjang sekali</span> terbagi atas 6 poin, mengalahkan selebaran atau pamflet manapun yang dikeluarkan UI maupun FKUI.. bahkan semua tulisan BIAWAK sebelumnya, karena tulisan ini benar-benar ditujukan kepada pembaca yang benar-benar ingin masuk FKUI. Tulisan ini juga bertujuan untuk mengurangi komentar mengganggu tersebut di <em>blog</em> ataupun account <em>Friendster</em> para sejawat di manapun Anda berada.</p>
<p><span id="more-13"></span></p>
<p>Pertanyaan utama kita adalah bagaimana cara masuk FKUI, maka dari itu jawabannya cukup jelas.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/biawak/2008_oct_manjurfkui/skema_google_earth.jpg" alt="" width="412" height="270" /><br />
<em>Skema jalan ke arah pintu gerbang UI Salemba (Google Earth)</em></p>
<p>Pintu masuk FKUI terletak di jalan Salemba Raya yang menghubungkan Kampung Melayu dan Senen di Jakarta Pusat. Pintu tersebut cukup jelas dan besar, berada di sebelah kiri jalan apabila pembaca berkendara dari arah Kampung Melayu. Kemudian apabila pembaca naik kendaraan pribadi tanpa stiker parkir, akan dikenakan biaya sebesar Rp 2.000,00 sementara bila dengan sepeda motor, tidak dikenakan biaya. Selebihnya adalah sukarela sodara untuk menyumbang (baca: rela dipalak) oleh para petugas parkir.<br />
<img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/biawak/2008_oct_manjurfkui/12102008005.jpg" alt="" width="416" height="311" /><br />
<img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/biawak/2008_oct_manjurfkui/12102008006.jpg" alt="" width="414" height="311" /><br />
<em>Pintu masuk kampus UI Salemba. Tidak usah malu-malu masuk. Tidak perlu buka sepatu, apalagi buka celana.</em></p>
<p>Bila itu bukan pertanyaan pembaca, maka kita bergerak ke pertanyaan berikutnya yang menggunakan bahasa berbobot sehingga artinya lebih mudah dipahami. Yaitu <strong>bagaimana cara dapat masuk diterima berkuliah di FKUI</strong>. Lebih jelas dan lebih enak terdengarnya, betul?</p>
<p><strong>Pertama</strong></p>
<p>Pastikan pembaca adalah siswa SMA, madrasah aliyah (MA) atau sekolah kejuruan yang negeri ataupun swasta. Siswa SMP yang masih punya cita-cita mulia dan tak tergoyah, silakan cari SMA dulu dan mulai mempraktekkan <em>ora et labora</em>. Siswa SD silakan bermimpi dulu (<em>&#8220;kalo sudah besar, aku pengen jadi dokter&#8221;</em>). Atau cukup main dokter-dokteran di taman kanak-kanak setempat tanpa harus kuatir dituduh sebagai pedofilia.</p>
<p><span style="color: #003300;">Untuk asal penjurusan di SMA, sebenarnya tidak harus dari jurusan ilmu pengetahuan alam/IPA, ini terbukti dengan adanya beberapa mahasiswa FKUI yang diterima dari jurusan ilmu pengetahuan sosial/IPS.</span> Tetapi untuk memudahkan pembelajaran pada saat ujian masuk FKUI ataupun demi keselamatan diri dan pasien selama berkuliah di FKUI, dengan tidak bermaksud menyangsikan kompetensi sejawat dari IPS, sebaiknya pembaca berasal dari jurusan IPA ataupun kejuruan yang berhubungan dengan kesehatan.</p>
<p>Hingga penerimaan tahun 2008, alumnus hingga angkatan lulus SMA/sederajat tahun 2006 masih dapat mengikuti pendidikan di FKUI, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Jadi bagi pembaca yang saat ini belum berkuliah atau sudah berkuliah di perguruan tinggi lainnya dan merupakan alumnus dari angkatan 2 tahun di atas tahun yang sekarang, masih berkesempatan untuk menikmati pendidikan di FKUI kecuali untuk jalur Program Pemerataan Kesempatan Belajar/PPKB.</p>
<p><strong>Kedua</strong></p>
<p><span style="color: #003300;">Kenali kurikulum dan situasi pendidikan dokter di FKUI yang berbeda dengan perkuliahan di jurusan lain, terutama dalam hal pendidikan secara keilmuan dan keprofesian.</span> Keilmuan, berarti mahasiswa kedokteran akan diberikan kuliah, praktikum dan pengalaman bekerja di dalam instalasi kesehatan. Keprofesian, berarti mahasiswa kedokteran akan diberikan pengalaman untuk membentuk karakter seorang dokter pada diri mereka.</p>
<p><strong><span style="color: #800000;">Bila pembaca sudah <em>haqqul yaqin</em> dengan FKUI, sebaiknya silakan saja lewatkan poin kedua ini karena poin inilah yang membikin tulisan kali ini panjang sekali&#8230;</span></strong></p>
<p>Dalam konteks FKUI, yang sudah mengadaptasi Kurikulum Inti Pendidikan Dokter di Indonesia (KIPDI) III, pendidikan disusun atas sistem topik modul. <span style="color: #003300;">Dengan KIPDI III, mahasiswa FKUI akan lulus pendidikan dokter umum selama 5 tahun yang terdiri dari 4 tahun jenjang preklinik (belum berhak mengikuti pengalaman klinik), 1 tahun jenjang klinik (disebut juga koas) ditambah 1 tahun masa magang di bawah supervisi.</span> Karena FKUI berada di bawah lingkungan UI, maka setelah mengikuti pendidikan selama 4 tahun mahasiswa akan diwisuda sebagai sarjana kedokteran (SKed.). Kembali ke kampus untuk mengikuti kurikulum tahun selanjutnya dan pada akhirnya diwisuda sebagai dokter (dr.) setelah satu tahun.</p>
<p><span style="color: #003300;">Pengajaran berlangsung berdasarkan topik dari suatu modul</span>, misalnya modul pernapasan yang akan membahas semua hal tentang pernapasan dimulai dari pengetahuan mengenai organ tubuh yang terlibat dalam pernapasan mulai dari lubang hidung sampai kantung udara di paru secara makroskopik hingga mikroskopik. Kemudian akan dibahas pula mekanisme fungsi tubuh dalam bernapas mulai dari faktor yang memicu timbul gerak napas hingga proses yang timbul dalam pertukaran oksigen di organ tubuh, lalu sampailah pada topik utama yaitu penyakit paru mulai dari faktor penyebab, mekanisme timbul penyakit, prosedur diagnostik hingga pencegahan dan pengobatan.</p>
<p>Sistem pembelajaran menggunakan sistem tahun atau kelas yang terdiri dari 4 - 6 modul topik per tahun. FKUI kurang begitu mengenal sistem kredit semester/SKS, sehingga mahasiswa harus dapat mengikuti aliran kuliah dengan baik jika tidak ingin “tinggal kelas” dan mengikuti kelanjutan perkuliahan bersama dengan adik-adik kelasnya.</p>
<p>Setelah mendapat gambaran seperti apa modul topik itu, maka dalam setiap modul topik proses pembelajaran tersusun atas:</p>
<ol>
<li>Perkuliahan yang dilaksanakan di dalam ruang kuliah, untuk membekali mahasiswa dengan ilmu-ilmu dasar mengenai topik itu. Dari sini akan diberikan pemicu berupa kata kunci dan beberapa referensi yang mahasiswa harus baca sendiri untuk melengkapi perkuliahan.</li>
<li>Diskusi yang dilaksanakan di dalam ruang-ruang kecil, dimulai dengan penentuan pemicu dan kata kunci dari dosen pendidik sehingga mahasiswa dapat memperluas pengetahuan berdasarkan pemicu dan kata kunci tersebut. Dari kebiasaan <em>brain storming</em> seperti ini, selain mahasiswa akan saling melengkapi ilmu yang mereka miliki melalui perkuliahan dan membaca literatur juga akan terlatih untuk memberikan argumentasi dan menerima kritik sesuai kaidah keilmuan. <span style="color: #003300;">Pengalaman seperti ini juga akan terjadi kelak saat sudah menjadi dokter ketika dokter bekerja sebagai tim.</span></li>
<li>Praktikum yang dilaksanakan di dalam ruang praktikum, melibatkan instrumen laboratorium, simulasi dan sediaan periksa/preparat. Instrumen juga didapat sampel dari tubuh manusia, seperti mayat/kadaver manusia yang sudah diawetkan, preparat mikroskop biji pelir manusia, tabung awetan otak dan sebagainya, sehingga kepada peminat FKUI sebaiknya tidak memandang jijik instrumen tersebut karena ini merupakan bagian dari pendidikan dokter. Praktikum ini hanya dilakukan pada mahasiswa jenjang preklinik, karena pada jenjang klinik mahasiswa akan berhadapan langsung dengan pasien.</li>
<li>Sidang pleno yang dilaksanakan di dalam ruang kuliah, untuk menyamakan persepsi dan menyimpulkan suatu pemicu dari suatu topik. Berbagai hasil diskusi dan bacaan literatur disimpulkan dalam kesempatan ini sehingga mahasiswa dapat mengerti keseluruhan topik dalam suatu modul. Pola sidang pleno ini hanya ada pada jenjang preklinik, karena pada jenjang klinik sidang difokuskan pada pembahasan kasus dari pasien langsung.</li>
<li>Keterampilan klinik dasar/KKD, yang ditujukan kepada para mahasiswa preklinik untuk melatih keterampilan pelayanan dasar kesehatan seperti melakukan wawancara medik, memeriksa pasien, melakukan bantuan pernapasan dan sebagainya. Idealnya, mahasiswa harus sudah lulus KKD untuk dapat meneruskan ke jenjang klinik.<span style="color: #000080;"> <span style="color: #003300;">KKD ini dilaksanakan secara rutin sejak masa awal pendidikan hingga menjelang jenjang klinik, berbeda dengan pendidikan terdahulu di FKUI.</span></span></li>
<li>Riset, untuk memberikan pengalaman keilmuan dan statistika kepada mahasiswa. Di FKUI, riset dilaksanakan dalam supervisi dosen pembimbing sesuai pilihan topik riset. <span style="color: #003300;">Riset secara akademis merupakan syarat bagi mahasiswa preklinik untuk melanjutkan ke jenjang klinik. Sampai tulisan ini diturunkan, angkatan pertama yang mengadaptasi KIPDI III (angkatan 2005) belum menyelesaikan jenjang ini sehingga penulis belum bisa berbicara banyak mengenai hal ini. Demikian pula untuk magang di bawah supervisi, karena angkatan tahun terakhir (angkatan 2003) masih mengadaptasi KIPDI II yang umumnya berbeda dengan paparan tulisan ini.</span></li>
<li>Pengalaman klinik, untuk mempraktekkan ilmu yang mahasiswa sudah dapat selama masa preklinik. Hal ini baru dilaksanakan setelah mahasiswa mencapai jenjang klinik. Sesuai dengan situasi pelayanan kesehatan, mahasiswa akan dihadapkan pada pasien langsung di poliklik, instalasi gawat darurat/iGD, ruang operasi, kamar bersalin, rawat inap, instalasi jenazah dan balai pengobatan pusat kesehatan masyarakat/puskesmas baik sehari-hari maupun tugas jaga malam. <span style="color: #003300;">Di sinilah pendidikan sebenarnya seorang mahasiswa kedokteran, karena tidak saja ilmunya akan diterapkan tetapi mahasiswa juga akan berhadapan dengan berbagai situasi dan karakteristik manusia, mulai dari pasien, sesama pelayan kesehatan hingga dosen profesor dari latar belakang yang sangat beragam.</span> FKUI sampai tulisan ini diturunkan membuka kerjasama dengan beberapa RS pendidikan seperti RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, RS Persahabatan Jakarta, Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta, RS Fatmawati Jakarta, RS Kanker Dharmais Jakarta, RSU Tangerang dan RS Kusta Sitanala Tangerang untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan klinik.</li>
<li>Evaluasi, untuk mengukur kemampuan mahasiswa berupa ujian tertulis, ujian lisan, ujian praktikum, <em>objective structured clinical examination</em> (OSCE)<sup><a href="#OSCE">2</a></sup> dan ujian kasus. Seperti halnya pada jurusan lain, ujian tertulis di FKUI berbentuk pilihan berganda ataupun <em>essay</em>, tetapi <span style="color: #003300;">FKUI tidak mengenal ujian tengah semester/UTS ataupun ujian akhir semester/UAS karena ujian biasanya dilakukan pada minggu-minggu akhir satu modul topik yang berjalan.</span> Pada ujian kasus, mahasiswa akan berhadapan langsung dengan kasus yang dibawakan pasien dan diuji oleh 1 - 2 dokter dosen penguji. <span style="color: #003300;">Ujian ini tidak hanya menilai pengetahuan mahasiswa tetapi juga karakteristik mahasiswa selayaknya seorang dokter.</span></li>
</ol>
<p>Kelihatannya sangat sibuk ya? Namun semua itu tentu tidak tanpa celah, pembaca sebagai mahasiswa FKUI masih sempat untuk meluangkan waktu luang selayaknya manusia biasa.</p>
<p>Saat-saat santai yang dimaksud adalah beberapa kesempatan kecil untuk melarikan diri dari ruang kuliah, atau sekedar menyempatkan diri untuk berkolaborasi di kantin terdekat untuk sekedar menyantap cemilan konkrit atau cemilan asap. Atau untuk pembaca yang memiliki kebutuhan lebih akan lawan jenis, boleh-boleh saja menyia-nyiakan waktu untuk mengejar semua wanita-wanita kesejawatan yang berseliweran di sekitar anda. <span style="color: #003300;">Menjadi mahasiswa FKUI sedikit identik dengan bayangan bahwa anda akan berubah menjadi robot macam C-3PO, berjalan tertunduk dengan tumpukan buku di dada anda. Tetapi menurut pengalaman penulis, kehidupan macam itu cuma mitos belaka bahkan untuk para peraih <em>cum laude</em>.</span></p>
<p>Dengan situasi pendidikan seperti itu, yang melibatkan kekuatan fisik (misalnya setelah jaga harian di IGD RSCM dari pukul 5 pagi sampai pukul 3 sore disambung jaga malam di IGD RS Persahabatan hingga pukul 4 pagi lantas harus menyusun presentasi kasus untuk pukul 6 pagi di RSU Tangerang) serta ketabahan mental (misalnya mendapatkan pasien gelisah lantas disuruh residen menerima pasien baru ketika dokter konsultan yang sohor galak akan datang untuk visite pasien) maka <span style="color: #003300;">dibutuhkan kemauan keras, kesabaran yang besar dan niat yang tulus agar pendidikan dapat berlangsung lancar. Tidak lupa sedikit kepandaian (kemampuan menyiasati dan meliciki kehidupan) agar masa-masa perkuliahan terasa lebih segar dan menyenangkan.<br />
</span></p>
<p><strong>Ketiga</strong></p>
<p><span style="color: #003300;">Ketahui persiapan biaya untuk berkuliah di FKUI. Hal ini cukup penting, terutama bila pembaca adalah peminat dari golongan biasa-biasa saja (ekonominya&#8230;).</span> Sesuai dengan surat keputusan rektor UI mengenai biaya pendidikan dan mekanisme penetapan pembebanan besaran biaya operasional pendidikan/BOP (intinya biaya kuliah di UI lah) per tahun ajaran 2008/2009<sup><a href="#bop">3</a></sup>, <span style="color: #003300;">paling tidak mahasiswa FKUI harus membayar minimal Rp 100.000,00 hingga Rp 7.500.000,00 tiap semesternya.</span></p>
<p>Fenomena yang terjadi pada tahun ajaran 2008/2009 adalah banyak calon mahasiswa UI mengundurkan diri karena mahalnya biaya untuk masuk UI<sup><a href="#mahalmiol">4</a></sup>, sekitar 5 kali lipat dari biaya pendidikan penulis. Menurut berbagai sumber termasuk dari Ketua Senat Mahasiswa Ikatan Keluarga Mahasiswa/SM IKM FKUI periode 2007 - 2008 <a href="http://hendy05.multiply.com/" target="_blank">Alldila Hendy PS</a>, rupanya ini terjadi karena <span style="color: #003300;">adanya kesimpang siuran berita serta tidak adanya akses informasi yang mencukupi untuk diketahui orangtua dan calon mahasiswa UI. Seolah-olah kabar yang beredar adalah besar uang kuliah FKUI per semesternya adalah Rp 7.500.000,00</span><sup><a href="#bopanakui">5</a></sup> dan hal ini baru diketahui setelah diterima di FKUI. Itu pun belum termasuk uang pangkal yang sejak tahun 2004 dipatok hingga Rp 25.000.000,00<sup><a href="#pangkal">6</a></sup>. Menurut mahasiswa FKUI angkatan 2005 ini, biaya tersebut selain dapat bertahan tanpa dimungkinkan turun, juga dapat masih bisa naik lagi pada tahun ajaran 2009/2010. Orang gila kampung mana yang tidak kaget mendengar kabar begitu?</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v367/71/24/555523608/n555523608_964953_5087.jpg" alt="" width="409" height="306" /><br />
<em>Ketua SM IKM FKUI 2007/2008 Alldila Hendy dan seekor penulis</em></p>
<p>Tetapi menurut mahasiswa yang akrab dipanggil Hendy ini, c<span style="color: #003300;">alon mahasiswa tidak perlu kuatir akan ketidak tersediaan dana karena banyak sekali kesempatan untuk meraih beasiswa (syarat dan ketentuan berlaku) selama mengikuti pendidikan di FKUI<sup><a href="#32">7</a>,<a href="#beasiswas">8</a></sup>.</span> Hal ini juga sebaiknya dipublikasikan oleh pihak FKUI dan UI secara umum<sup><a href="#lihat">9</a></sup>. <span style="color: #003300;">Informasi ini dapat diperoleh di bagian tata usaha FKUI ataupun di ruang SM IKM FKUI</span> dan tentunya data beasiswa akan terus diperbaharui setiap saatnya. Pembaca dapat bertanya lebih dahulu mengenai ketersediaan beasiswa ini sebelum memutuskan untuk masuk FKUI.</p>
<p>Selesai penulis berbicara mengenai biaya administratif, sekarang saatnya bicara mengenai pembiayaan penunjang.</p>
<p>Bagi pembaca yang bertempat tinggal di Jakarta tentunya tidak akan bermasalah dengan transportasi dan tempat tinggal. Bagi pembaca yang berasal dari luar Jakarta, atau dari Jakarta tetapi memang berminat untuk tinggal di tempat yang lebih dekat dari kampus, tentunya perlu dipikirkan tempat sementara selama masa pendidikan seperti indekost maupun kontrakan.</p>
<p>Data mentah rerata biaya indekost mahasiswa FKUI per bulannya adalah Rp 1.200.000,00 dengan persebaran daerah yang cukup tersebar merata. Mahasiswa juga dapat mengontrak di Wismarini UI di daerah Cawang dengan biaya Rp 100.000 - 200.000 per bulan.</p>
<p>Biaya transportasi sangat bergantung pada tempat mahasiswa berkediaman, dengan rerata tarif angkutan kota Jakarta sebesar Rp 2.500,00 sekali naik. Untuk keperluan sehari-hari sebulan, perlu dibelanjakan minimal sebesar Rp 200.000,00 (akan lebih cekak lagi bila pembaca adalah seorang perokok&#8230; Dji Sam Soe pula).</p>
<p>Biaya makan dapat dipangkas hingga Rp 8.000,00 per hari. Tetapi semua informasi ini hanyalah taksiran mentah penulis, dan tentunya untuk tips bertahan hidup silakan tanyakan saja kepada para pahlawan perantauan di kampus karena biaya ini paling mudah untuk dimodifikasi.</p>
<p>Mahasiswa FKUI juga identik dengan buku-buku tebal dan berat<sup><a href="#buku">10</a></sup>, yang harganya dapat mencapai Rp 1.500.000,00 satu buahnya. <span style="color: #003300;">Tidak perlu mengusap dada dahulu karena ada banyak cara untuk &#8220;menyiasatinya&#8221; seperti meminjam senior, membeli secara patungan ataupun langkah terakhir dengan memiliki versi &#8220;murah&#8221; dari buku tersebut.</span> Penulis sendiri berhasil bertahan dengan tidak membeli buku ataupun &#8220;memelihara&#8221; buku yang lengah dari pengawasan pemiliknya.</p>
<p>Untuk alat-alat kedokteran, cukup dipersiapkan stetoskop, <em>pen light</em>, <em>sphygmomanometer</em> (tensimeter, bahasa udiknya), <em>reflex hammer</em>, termometer dan tas pinggang. <span style="color: #003300;">Tidak tahu bentuknya? Silakan coba saja di-<em>googling</em>.</span> Lebih kurang benda-benda ini akan menghabiskan total biaya minimal Rp 400.000,00. Dalam prakteknya, pinjam meminjam dapat menghemat banyak (atau rugi berat, apabila pembaca meminjamkan pada rekan yang selebor).</p>
<p><strong>Keempat</strong></p>
<p><span style="color: #003300;">Pada tahun 2008, UI mengadakan cukup banyak perubahan dalam jalur penerimaan dan kini terdapat empat jalur penerimaan di FKUI, yaitu Ujian Masuk Bersama/UMB<sup><a href="#umb">11</a></sup>, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri/SNMPTN<sup><a href="#senam">12</a></sup>, Kerjasama Daerah dan Industri/KSDI<sup><a href="#kdi">13</a></sup> dan PPKB.</span> Kesemuanya kecuali PPKB, yang diseleksi dari sekolah masing-masing tanpa mengikuti ujian, masih dapat menerima alumnus 2 tahun di atas angkatan lulus SMA/sederajat kala itu. <span style="color: #003300;">Seperti biasa, bagi calon mahasiswa FKUI yang sudah berkuliah di tempat lain, transfer nilai dan SKS tidak berlaku sehingga semuanya dimulai dari awal.</span> Sesuai penuturan Hendy, pada penerimaan tahun 2008 proporsi mentah keempatnya masing-masing secara berurutan adalah 60:35:(50 - 60):20. Dari proporsi ini dapat diperkirakan intensitas kompetisi perebutan bangku kuliah untuk masing-masing jalur.</p>
<p>Tampak proporsi UMB cukup mendominasi jumlah mahasiswa FKUI pada tahun 2008, sayangnya jalur ini baru melayani penerimaan dengan pilihan yang masih terbatas, yaitu UI, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, dan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar<sup><a href="#hariini">16</a></sup>. <span style="color: #003300;">Hendy, bersama kawan-kawannya dari BEM UI yang telah cukup panjang memperjuangkan keadilan dalam pelaksanaan UMB dan BOP, mengharapkan bahwa pada tahun akademik 2009/2010 cakupan ini dapat lebih luas dan proporsi bangku SNMPTN dapat lebih ditingkatkan agar makin besar kesempatan calon mahasiswa untuk berkuliah di FKUI.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">UMB yang kontroversial ini<sup><a href="#kontro">14</a></sup> pada tahun 2008 dilaksanakan sekitar 1 bulan sebelum SNMPTN<sup><a href="#senam">12</a>,<a href="#uji">15</a></sup>. Perbedaan waktu pelaksanaan ini akan sangat mempengaruhi waktu belajar calon mahasiswa dan pilihan antara UMB atau SNMPTN, apalagi dengan masih simpang siurnya perbedaan antara UMB dan SNMPTN pada saat mendekati ujian-ujian tersebut.</span></p>
<p>Beberapa bimbingan belajar bahkan nampaknya baru menyadari adanya 2 jalur &#8220;pecahan&#8221; dari SPMB sekitar 1 bulan sebelum UMB 2008, yang dilaksanakan lebih dahulu daripada SNMPTN 2008, sehingga beberapa bimbingan belajar hanya melayani hingga UMB selesai dilaksanakan. Cukup banyak juga bimbingan belajar yang melayani calon mahasiswanya hingga SNMPTN. <span style="color: #003300;">Maka untuk keterangan lebih lanjut, pembaca dapat menghubungi bimbingan belajar kepercayaan pembaca sambil memastikan apakah bimbingan tersebut siap melayani pembaca mulai dari ujian sekolah hingga UMB dan SNMPTN.</span></p>
<p>Mengenai bobot soal masing-masing, nampaknya UMB tidak lebih mudah dari SNMPTN. Tetapi bagaimanakah persiapannya?</p>
<p>Menurut penuturan Maissy, mahasiswa FKUI 2008 dari jalur UMB, ia sempat mengikuti salah satu bimbingan belajar beken di Jakarta, tetapi ia merasa lebih nyaman belajar sendiri tanpa gangguan orang lain di tempat yang sunyi (macam Tanah Kusir) dan kemudian setelah merangkum semua di dalam kepalanya, akan bertanya kepada kawannya atau guru privatnya apabila ada materi latihan soal yang tidak jelas. Maissy mengakui bahwa bobot soal bimbingan belajarnya itu berkesan <em>over-prepared</em> dibandingkan soal UMB tahun 2008 yang Maissy ikuti. Pernyataan ini bukan berarti pembaca untuk bersantai-santai apabila pembaca memutuskan untuk mengikuti UMB dengan alasan soal-soalnya tidak sesulit soal-soal bimbingan belajar yang pembaca ikuti, ditambah kenyataan proporsi UMB dalam penerimaan tahun 2008 cukup tinggi. <span style="color: #003300;">Menganggap remeh sesuatu akan berakibat fatal, terutama jika pembaca adalah seorang peminat FKUI yang mau tidak mau akan segera terjun langsung ke masyarakat. </span>Sementara Icha, mahasiswa FKUI 2008 dari jalur SNMPTN, telah mengikuti bimbingan belajar sohor persembahan alumni SMA-nya di Jakarta Selatan. Latihan soal dan rajin mengikuti bimbingan belajar menjadi senjata andalannya untuk lulus SNMPTN. Icha sendiri sudah sempat mencoba mengikuti UMB tetapi tidak lulus. Tetapi <span style="color: #003300;">sesuai dengan program dari bimbingan belajar tersebut (dan kemauan kuat dari Icha sendiri)</span>, Icha terus belajar sebagai persiapan SNMPTN dan akhirnya lulus diterima FKUI.</p>
<p>Maka perlu diulangi lagi bahwa bila pembaca membutuhkan bantuan bimbingan belajar dalam menembus UMB ataupun SNMPTN, tanyakanlah langsung kepada bimbingan belajar yang bersangkutan. <span style="color: #003300;">Dalam hal kualitas baiknya ditanyakan berapa banyak lulusan bimbingan tersebut yang diterima di program studi favorit serta berapa jumlah siswa dalam setiap kelasnya karena akan berhubungan dengan konsentrasi belajar.</span></p>
<p>Dari jalur KSDI, penulis berhasil menemui Nanda yang merupakan lulusan salah satu SMA dari Riau. <span style="color: #003300;">Untuk seleksi KSDI sendiri, akan sangat bergantung kepada jenis sponsor yang ada di daerah tempat pembaca berada. Semisal Nanda, secara aktif ia mendapatkan informasi mengenai jalur KSDI untuk UI dari pemerintah kabupaten tempat tinggalnya, selain juga dari pemerintah provinsinya</span>. Nanda kemudian menyerahkan persyaratan yang diminta lalu ia mengikuti psikotes dan ujian tulis yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten untuk kemudian hasil seleksi awal ini akan diperiksa oleh utusan UI untuk kemudian dilakukan seleksi lagi di tingkat UI. Beberapa perusahaan juga bersedia menjadi sponsor KSDI di berbagai fakultas di UI, tetapi terbatas FKUI sejauh ini hanya berupa pemerintah daerah saja. <span style="color: #003300;">Jumlah biaya KSDI pada mahasiswa FKUI angkatan 2008 adalah lebih kurang Rp 400.000.000,00 yang masih dapat berubah untuk tahun berikutnya, yang ditentukan oleh fakultas dan para petinggi UI lainnya.</span></p>
<p>Untuk jalur PPKB, penulis menemui Rizka yang merupakan lulusan salah satu SMA negeri di bilangan Salemba, Jakarta Pusat. Seperti yang telah diketahui bersama, banyak universitas negeri maupun swasta melakukan seleksi langsung tanpa ujian tulis terhadap siswi/siswa pada tingkat SMA/sederajat. Dalam konteks FKUI, biasanya akan dikirimkan tawaran PPKB dari UI kepada sekolah-sekolah untuk kemudian siswi/siswanya dapat mengikuti seleksi tersebut. Pada tahun 2008 ini, Rizka mendapatkan tawaran tersebut dari sekolahnya pada sekitar bulan Februari. <span style="color: #003300;">Rizka kemudian melengkapi persyaratan seperti daftar nilainya dari kelas X (kelas 1 SMA kalo jaman dulu) hingga semester akhir kelas XII (kelas 3 SMA cuy), untuk kemudian dikirimkan kembali ke UI untuk diseleksi. Jalur PPKB ini tentu saja akan memilih secara objektif berdasarkan nilai rapor SMA, jadi bagi pembaca yang baru saja masuk SMA dan memilih untuk masuk FKUI sebaiknya sudah mulai menuai nilai bagus sejak kelas X untuk kemudian nanti saat kelas XII dapat mengikuti seleksi PPKB.</span></p>
<p>Keempat narasumber ini sempat menyatakan ada kemungkinan &#8220;penjatahan&#8221; penerimaan untuk masing-masing jalur bagi masing-masing SMA terutama di DKI Jakarta. Seperti pada jalur UMB dan SNMPTN, menurut Maissy dan Icha, paling tidak ada 5 wakil SMA mereka dari masing-masing jalur tersebut. Demikian pula menurut Rizka, sekitar 50% mahasiswa dari jalur PPKB tahun 2008 berasal dari DKI Jakarta. Rumor ini sudah ada sejak jaman Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru/SIPENMARU dan lumayan membuat ciut para calon mahasiswa FKUI. <span style="color: #003300;">Tetapi penulis tidak mendapatkan bukti nyata apakah &#8220;penjatahan&#8221; ini memang ada, karena tiap tahunnya komposisi asal SMA selalu berubah sementara siapa tahu memang dari pihak petinggi fakultas dan UI memang memiliki kebijakan tertentu terutama menyoal pemerataan kesempatan.</span></p>
<p>Itulah mengapa, penulis menyarankan kepada pembaca untuk terus mengikuti arus informasi, belajar dan berdoa, menepis semua rumor dan tipu daya skor <em>try-out</em> dari masing-masing bimbingan belajar untuk meraih FKUI.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://photos-e.ak.facebook.com/photos-ak-snc1/v341/71/24/555523608/n555523608_918532_3873.jpg" alt="" width="405" height="303" /><br />
<em>BIAWAK bersama FKUI angkatan 2008 yang diwawancarai&#8230;<br />
disertai bintang tamu kita bapak Riyadi, maskot BIAWAK terbaru.</em></p>
<p><strong>Kelima</strong></p>
<p>Penulis sempat menuturkan tips-tips selama mengikuti SPMB pada tahun 2005 di <em>blogsite</em> tetangga. Kiranya tulisan ini masih dapat dipraktekan pada UMB dan SNMPTN tahun-tahun selanjutnya. Untuk mencegah tulisan ini semakin panjang, klik saja langsung di sini<sup><a href="#jadul">17</a></sup>.</p>
<p>Untuk urusan ospek dan <em>asthmatic mammae</em> (tetek bengek) lainnya, jalani saja lah bila rekan pembaca sudah berhasil menyatakan diri diterima.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://photos-602.friendster.com/e1/photos/20/61/8231602/1_112015081l.jpg" alt="" width="431" height="323" /><br />
<em>Situasi saat ospek FKUI angkatan 2007 di UI Salemba, Jakarta<br />
</em></p>
<p><strong>Simpulan</strong></p>
<p>Ketika memutuskan untuk masuk FKUI, pembaca harus sudah mengetahui bagaimana situasi pendidikan di FKUI dan apa saja persiapannya yang terutama berkenaan dengan bagaimana perkembangan jalur masuk FKUI pada tahun tersebut sehingga pembaca dapat sepenuhnya <span style="color: #003300;">memahami proses penerimaan di FKUI, memahami bagaimana cara memilih cara belajar yang baik, mengurangi kesulitan yang dapat timbul selama pendidikan (terutama dalam hal finansial) serta pada akhirnya dapat menjadi dokter lulusan FKUI.</span></p>
<p><strong><span style="color: #800000;">FKUI adalah kampus yang unik. Kampus yang berbeda dari fakultas lain. FKUI mendidik mahasiswanya untuk tetap menghargai kesejawatan di manapun berada, karena dari rekan sejawatlah dokter itu hidup, maju, bahkan hancur. Karena itu penting bagi peminat untuk menanamkan modal dasar dari dalam hati bahwa pembaca adalah bagian dari pembaca lain, juga bagian dari kesejawatan (junior, senior, dokter residen, dokter konsultan dan sebagainya).</span></strong></p>
<p>Bila ada pertanyaan lebih lanjut, silakan gunakan komentar di bawah. BIAWAK akan berusaha menjawabnya dan bila perlu akan merujuk pertanyaan pembaca kepada yang lebih mengerti persoalan.</p>
<p><strong>(Tertulis oleh BIAWAK full version, diperbantukan oleh Ryan &#8220;Batax&#8221; &#8216;03, Wahyu &#8220;Timbul&#8221; &#8216;03, Yadi &#8216;03, Hendy &#8216;05, iLman CSUI &#8216;05, Syifa &#8216;06, Aden &#8216;07, Rinto &#8216;07, Icha &#8216;08, Maissy &#8216;08, Nanda &#8216;08, Rizka &#8216;08, Bimo SMANDEL &#8216;08)</strong></p>
<p>Bacaan lebih lanjut:</p>
<ol>
<li><a name="comment1"></a><a href="http://fkui02.net/biawak/2008/08/04/blog-nyeleneh-mahasiswa-fkui/#comment-19" target="_blank">Permintaan tips masuk FKUI oleh ntha di BIAWAK.</a></li>
<li><a name="OSCE"></a><a href="http://student.bmj.com/back_issues/0300/soundings/82a.html" target="_blank">Objective structured clinical examination by Vicky Mottram. Students BMJ.</a></li>
<li><a name="bop"></a><a href="http://www.ui.edu/notice/sk-rektor-tentang-biaya-pendidikan-dan-mekanisme-penetapan-pembebanan-besaran-biaya-operasional-pendidikan-id.html" target="_blank">SK Rektor UI tentang Biaya Pendidikan dan Mekanisme Penetapan Pembebanan Besaran Biaya Operasional Pendidikan 2008/2009.</a></li>
<li><a name="mahalmiol"></a><a href="http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MTY3ODM=" target="_blank">Niat Kuliah di PTN Terganjal. Media Indonesia Online.</a></li>
<li><a name="bopanakui"></a><a href="http://www.anakui.com/tag/bop/" target="_blank">Kumpulan tulisan terkait biaya operasional pendidikan/BOP di anakUI.com.</a></li>
<li><a name="pangkal"></a><a href="http://www.tempo.co.id/hg/jakarta/2004/08/04/brk,20040804-08,id.html" target="_blank">Mahasiswa UI Tolak Biaya Kuliah Mahal. Tempo Interaktif.</a></li>
<li><a name="32"></a><a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/15/13451125/ui.sediakan.beasiswa.rp.32.miliar.untuk.siswa.tak.mampu" target="_blank">UI Sediakan Beasiswa Rp 32 Miliar untuk Siswa Tak Mampu. Kompas.</a></li>
<li><a name="beasiswas"></a><a href="http://www.beasiswas.net/2008/07/daftar-nama-nama-pemberi-beasiswa.html" target="_blank">Daftar nama pemberi beasiswa di UI. Beasiswas.net.</a></li>
<li><a name="lihat"></a><a href="http://www.anakui.com/2008/07/19/lihat-apa-yang-ui-telah-lakukan-kepada-calon-mahasiswa-baru/" target="_blank">Lihat Apa yang UI Telah Lakukan Kepada (Calon) Mahasiswa Baru oleh M. Ilman. anakUI.com</a></li>
<li><a name="buku"></a><a href="http://badangolgi.blog.com/2955377/" target="_blank">Dibajak atau Dibeli? Badan Golgi FKUX.</a></li>
<li><a name="umb"></a><a href="http://samanui.wordpress.com/2008/05/13/ujian-masuk-bersama-umb-2008/" target="_blank">Ujian Masuk Bersama (UMB) 2008. Website SAMAN UI.</a></li>
<li><a name="senam"></a><a href="http://snmptn.wordpress.com/" target="_blank">SNMPTN Tahun Akademik 2008/2009.</a></li>
<li><a name="kdi"></a><a href="http://penerimaan.ui.edu/media/files/ksdi/prosedur-pendaftaran-ksdi-2008.pdf" target="_blank">Prosedur Pendaftaran dan Seleksi Peserta Jalur Kerjasama Daerah dan Industri UI Tahun Akademik 2008/2009. File .pdf. Website UI.</a></li>
<li><a name="kontro"></a><a href="http://bem.ui.edu/v1/?p=59" target="_blank">Polemik UMB dan SNMPTN: Elit Yang Bertikai Masyarakat Yang Terbengkalai oleh Salman Farishi. Website BEM UI.</a></li>
<li><a name="uji"></a><a href="http://samanui.wordpress.com/2008/06/16/pengumuman-umb-2008/" target="_blank">Pengumuman UMB 2008. Website SAMAN UI.</a></li>
<li><a name="hariini"></a><a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/07/09301291/hari.ini.umb.lima.ptn.digelar" target="_blank">Hari Ini UMB Lima PTN Digelar. Kompas.</a></li>
<li><a name="jadul"></a>SPMB Jadul (down)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fkui02.net/biawak/2008/11/08/tips-manjur-masuk-fkui-a-la-biawak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tips.. Menjaga hubungan dalam dunia kedokteran..</title>
		<link>http://fkui02.net/biawak/2008/10/30/tips-menjaga-hubungan-dalam-dunia-kedokteran/</link>
		<comments>http://fkui02.net/biawak/2008/10/30/tips-menjaga-hubungan-dalam-dunia-kedokteran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 04:35:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BIAWAK</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Semerta-merta]]></category>

		<category><![CDATA[blog kedokteran]]></category>

		<category><![CDATA[dunia kedokteran]]></category>

		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>

		<category><![CDATA[mahasiswa kedokteran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fkui02.net/biawak/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum dimulai klik dimari dulu yah dan biarkan berjalan di windows atawa tab lainnya hohohoho^^
Ehem2,,
Sudah sekian lamanya penulis absen untuk berbagi tulisan. Jadi kita mulai sekarang dari yang ringan saja dulu. Yah, seperti anda, saya dan kita semua manusia haus akan yang namanya “INTIMACY” (terserah anda mengartikannya bagaimana). Kita butuh untuk mengasihi dan untuk dikasihi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fkui02.net/biawak/wp-content/uploads/2008/10/11-someday-from-the-august-rush-sou.mp3">Sebelum dimulai klik dimari dulu yah dan biarkan berjalan di windows atawa tab lainnya hohohoho^^</a></p>
<p>Ehem2,,</p>
<p>Sudah sekian lamanya penulis absen untuk berbagi tulisan. Jadi kita mulai sekarang dari yang ringan saja dulu. Yah, seperti anda, saya dan kita semua manusia haus akan yang namanya <em>“INTIMACY”</em> (terserah anda mengartikannya bagaimana). Kita butuh untuk mengasihi dan untuk dikasihi pula. Ini hanya merupakan sedikit berbagi dari pengalaman saya baik itu saya alami sendiri dan rangkuman dari hal – hal yang diceritakan kepada saya. Setelah ditilik dan ditelaah secara jujur dan terbuka, banyak dari mahasiswa/i dari kampus kedokteran itu mempunyai dengan masalah dengan kisah cintanya. Bahkan tidak sedikit yang sama sekali tidak mempunyai kisah cinta. Yah, kalau ditanyakan alasannya apa semua orang bisa saja berkilah atau bahkan mengarang cerita cintanya sendiri. Penulis disini bukan menghakimi bahkan menghukum orang tersebut. Penulis juga tidak akan mengutuk orang - orang yang kebetulan saja diberikan sang pencipta sedikit kelebihan, sebut saja para pria/wanita yang terlihat rupawan. (Jujur saja sang penulis juga diberi sedikit kelebihan oleh sang pencipta pada badannya heuaheuaheuhauehau^^). Karena penulis ini merupakan <em><strong>&#8220;cavalheiro toelend tjampoeran djawa en Soenda&#8221;</strong></em> (Gak ada hubungannya sie..) sehingga kemungkinan banyak pengalaman yang dibagi merupakan dari satu sudut pandang. Ini merupakan sedikit tips agar para mahasiswa/i bisa mengenali dan mungkin bisa mempraktekkan dengan yang namanya <em>&#8220;Healthy Relationship&#8221;</em> (hehehehe^^).</p>
<p><span id="more-17"></span>Yup, ini memang topik yang cukup “BASI”, tidak penting, bahkan mungkin hanya sekedar “SOK TAHU” dari penulisnya. Benarkah begitu? Tapi entah kenapa topik ini tidak pernah hilang dari bahan - bahan pembicaraan yang ada, baik diseputar kampus ataupun di kehidupan kita pada umumnya. Mungkin dari para pembaca juga ada sebagian yang sudah pernah agak &#8220;bermasalah&#8221; sehingga perlu berurusan dengan bagian psikiatri kita yang tercinta itu. Dimana biasanya pembimbing kejiwaan tercinta kita biasanya menanyakan <em>&#8220;bagaimana dengan kehidupan cinta anda?&#8221;. </em>Nah, lho? lalu tahukah anda pertanyaan berikutnya? biasanya ditanyakan <em>&#8220;Bagaimana kehidupan sex anda?&#8221;</em>. Waduh2, bagaimana tuh? Tenang saja nanti disediakan tempat untuk komentar, bahkan cacian dan makian juga silahkan. Jadi jangan marah karena baru di pembukaan hohohoho^^. Cukup gak usah basa-basi lagi langsung saja kita bahas satu persatu:</p>
<p>•    <strong>Pilih pasangan dengan cara bijak dan cara yang baik.</strong> Kita bisa tertarik terhadap seseorang karena berbagai macam alasan (Dia mengingatkan kita terhadap seseorang dimasa lalu, dia memberi kita banyak hadiah dan membuat kita merasa penting dan diperhatikan). Sebaiknya kita mengevaluasi dia seperti kita memilih sahabat; bagaimana karakternya, kepribadiannya, nilai2nya, kemurahan hati untuk berbagi semangat, hubungan antara ucapan dan tindakannya, dan hubungan dia dengan yang lainnya. Pernah denger istilah “pacarku, sahabatku”? Bah! gak semuanya kaya gitu kok. Emang, enak kalo bisa kaya gitu. Tapi kalo dijadiin sahabat dulu kemungkinan paling besar yah anda akan tetap berada di dalam zona teman <em>(Friends Zone).</em> Ouch! Tapi oh tetapi, tenang saja karena sudah ada beberapa bukti juga kalau memang berawal dari sahabat itu justru lebih enak karena dari masing2 sudah mengerti bagaimana <em>characteristic</em> dari pasangan masing2. jadi bagaimana pembaca menyikapi, itu urusan pembaca hohohoho^^</p>
<p>•    Sebisa mungkin anda mengetahui pasangan anda <strong>mengartikan sebuah hubungan</strong> itu seperti apa. Berbeda orangnya berbeda pula kepercayaan, berbeda pengalaman, sehingga kadang menyebabkan konflik. (contoh paling gampang; <em>&#8220;Lies and White lies, Dating for fun&#8221;</em>). Hmm, lebih mudahnya mungkin bisa dibilang ini sebagai kebiasaan yang sering dilakukan pada hubungan sebelumnya sehingga menjadi terbawa dan kita menganggap itu hanyalah hal yang biasa, sedangkan ternyata bagi pasangan itu merupakan hal yang <em>&#8220;kurang&#8221;</em> disukai.</p>
<p>•    <strong>Ketahui apa yang anda rasakan, inginkan, atau apapun dan katakan itu dengan jelas!</strong> Yah, udah jelas yang namanya hubungan a.k.a pacaran itu bukan permainan teka - teki. Banyak yang sudah mengalami masalah seperti ini, cowok/cewek takut untuk mengungkapkan  apa yang dirasakan atau kebutuhannya, jadi disembunyikan saja, atau bahkan disamarkan. Hasilnya hanya berupa kekecewaan saja karena tidak dapat mengungkapkan dan bahkan menjadi sebuah kemarahan dan kebencian karena pasangannya yang tidak bisa memenuhi keinginannya, kebutuhannya (yang tidak diungkapkan). Suatu keakraban, hubungan yang hangat dan baik – baik saja tidak akan bisa terjadi tanpa kejujuran. Jadi perlu diingat kalau pasangan anda itu bukan orang yang bisa membaca pikiran (unless he/she have the same kind power like “HEROES” character heuehuheue^^). Nah, untuk para pembaca yang sering berdalih dengan <em>“Ah, kamu gak sensitif deh!”</em> sebaiknya tidak dipakai lagi, karena memang lebih baik untuk mengatakan langsung. Nah, yang tertulis di poin ini biasanya merupakan pembunuh nomor satu dalam hubungan. Karena hal sepele sehingga terjadi <em>&#8220;misscommunication&#8221;</em>, yang pada akhirnya hal sepele itu menjadi besar.</p>
<p>•    Hormat, hormat, hormat. Baik itu di dalam sebuah hubungan ataupun diluar sebuah hubungan, selalu melakukan yang terbaik sehingga pasangan anda dapat mempertahankan rasa hormatnya pada anda. <strong>Rasa saling menghormati</strong> merupakan hal yang cukup esensial untuk sebuah hubungan yang baik. Hal ini terkadang merupakan hal yang sering dilupakan dan menjadi anggapan sepele. Bukan berarti mereka tidak ingin menghormati atau bahkan hanya melecehkan. Penulis lebih suka menganggap mereka terbawa suasana, atau bahkan tidak ingin merusak imej dimata orang lain. Dan jujur saja imej di dunia seperti kita ini amat sangat didewakan keberadaannya. Makanya diharapkan bisa membedakan yang namanya <em>&#8220;Gila hormat&#8221;</em> dan <em>&#8220;Saling menghormati&#8221;.</em></p>
<p>•    Anggap kalian berdua sebagai sebuah tim, artinya kalian berdua merupakan dua individual yang unik yang mempunyai perbedaan perspektif dan kekuatan. Jadikanlah sebagai nilai lebih dari tim anda (Perbedaannya tersebut). jangan sampai timpang antara anda dan pasangan anda. Walaupun sering dikatakan <em>&#8220;cintai diri anda sendiri, sebelum anda mencintai orang lain&#8221;</em>, disaat anda mempunyai pasangan atau menjalin sebuah hubungan ditekankan apakah anda bisa membagi dan berbagi. <strong><em>&#8220;Just Remember, it takes two to tango!&#8221;</em></strong></p>
<p>•    Mengerti bagaimana cara untuk mengatasi perbedaan (salah satu hal penting dalam sebuah hubungan). Perbedaan pendapat bukan merupakan hal yang membuat sebuah hubungan menjadi buruk. Akan tetapi, Bagaimana <strong>cara kita mengatasi perasaan negatif</strong> yang merupakan hasil sampingan dari perbedaan diantara dua orang. Ingat saja kalau bersikap seperti batu/tembok atau menghindari konflik bukanlah cara untuk mengatasinya. Nah, ini dia! Kita saat ini hidup di zaman yang menyukai sebutan <em>&#8220;Equality is Everything&#8221;</em>, harus selalu diingat yang namanya berhubungan itu berarti bisa menerima segala perbedaan diantaranya dan mencari jalan yang terbaik. Memang sulit, tetapi memaksakan tanpa mendengar pendapat pasangan merupakan kesalahan, dan kadang kita sering dipaksakan pada keadaan <em>&#8220;Nerimo&#8221;</em> walaupun dengan niat baik tetapi biasanya disertai dengan menumpukkan perasaan negatif yang ada. akhirnya berubah menjadi dendam.</p>
<p>•    Kalau anda tidak mengerti atau tidak menyukai sesuatu dari pasangan anda, <strong>TANYA SAJA LANGSUNG!</strong> Tanyakan saja tentang hal tersebut dan mengapa dia melakukan hal tersebut. Tanya dan eksplorasi lebih dalam. Jangan mengira2 dan berandai2. Ini yang biasanya menyebabkan terjadinya saling tuduh-menuduh. atau bila sudah terjadi terlalu lama hanya menjadi ajang balas2an antara pasangan tersebut.</p>
<p>•    <strong>Selesaikan masalah yang ada secara langsung.</strong> Jangan dibiarkan menumpuk atau bahkan berlarut2 sehingga menarik masalah yang sudah berlalu. Kesalahan terbanyak dari rusaknya sebuah hubungan dapat dilihat kembali karena perasaan – perasaan yang terluka (kadang hingga menumpuk), sehingga menyebabkan pasangan kita mulai membuat suatu <em>“defense mechanism”</em> terhadap kita dan bahkan menjadi seperti orang asing, tidak sedikit juga yang menjadi musuh.</p>
<p>•    <strong>Belajarlah untuk berdiskusi.</strong> Di jaman sekarang ini kita tidak bisa lagi berpangku pada yang namanya budaya. Para pasangan menciptakan peran mereka masing2, jadi pada dasarnya setiap tindakan memerlukan diskusi. Berdiskusi akan berjalan baik bila dilakukan dengan niat yang baik pula <em>(Quote – My Family saying)</em>. Dikarenakan kebutuhan orang itu berubah2 dari waktu ke waktu. Jadi saat ini bisa dikatakan sebuah hubungan yang baik itu merupakan negosiasi – negosiasi berulang setiap waktu.</p>
<p>•    <strong>Mendengarkan, benar – benar mendengarkan, segala macam kekhawatiran dan keluhan dari pasangan anda tanpa prasangka apapun.</strong> Kebanyakan dari pengalaman penulis, hanya dengan ada seseorang yang mendengarkan keluh kesah kita saja, ternyata merupakan semua yang kita butuhkan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Empati bisa dipraktekkan dan memang disarankan. Biasakan untuk melihat dari sudut pandang pasangan anda dan dari sudut pandang anda sendiri juga. (Not something like “Pain” the character from naruto comics hohoho^^).</p>
<p>•    <strong>Bekerja keras sembari menjaga hubungan.</strong> Keakraban atau hubungan yang hangat tidak terjadi dengan sendirinya. Biasanya pada masa absen tersebut orang cenderung menjauh dan memungkinkan terjadinya <em>“affairs”</em>. Sebuah hubungan yang baik bukanlah sebuah tujuan. Melainkan sebuah proses seumur hidup yang dijaga dengan perhatian yang teratur. Ambisi memang bagus dan diperlukan agar kita bisa terus maju. tetapi ambisi yang terlalu kaku bukan hanya merusak sebuah hubungan tapi terkadang menjadikan kehidupan diri-sendiri menjadi hancur pula.</p>
<p>•    <strong>Merencanakan jauh ke depan.</strong> Sebuah pernikahan merupakan sebuah perjanjian/kesepakatan untuk menjalani masa depan bersama. Coba bicarakan rencanamu dan rencananya secara terbuka, untuk memastikan kalian berada dijalan yang sama. Bila anda merubah sesuatu biasakan untuk memberitahu kepada pasangan anda.</p>
<p>•    <strong>JANGAN PERNAH MEREMEHKAN KEKUATAN DARI DANDANAN YANG BAIK!</strong> Biarpun sering dikatakan <em>“Don’t judge a book by it’s cover”</em> tapi selalu dan amat sangat pasti kalau <em>“First impression is everything”. </em>Percaya aja deh!<em> </em>saran macam ini aja berguna banget dalam menghadapi ujian lisan a.k.a ujian pasien a.k.a ujian makalah.</p>
<p>•    <em>“Sex is good, but Pillow talk is better. Sex is easy, but intimacy is difficult”</em> pernah dengar yang seperti ini? Jadi yang dimaksud <em>“intimacy”</em> disini memerlukan kejujuran, keterbukaan, kesiapan diri, memperlihatkan kekhawatiran, kesedihan, dan rasa takut juga berbagi harapan dan mimpi. Sekali lagi disini ditekankan untuk saling berbicara/berdiskusi dalam keadaan apapun sehingga bisa mencapai sesuatu yang diinginkan secara bersama juga.</p>
<p>•    Minta maaf, minta maaf, minta maaf. Semua orang bisa melakukan kesalahan. Usaha untuk memperbaikinya yang merupakan poin penting. Permintaan maaf bisa saja dengan cara yang kaku, lucu atau bahkan dengan kalimat sarkastik. Tetapi, <strong>sebuah usaha untuk berbaikan</strong> merupakan inti dari poin ini.</p>
<p>•    Yah, ketergantungan kadang merupakan hal yang baik, tetapi sebuah ketergantungan total terhadap pasangan hanya akan mengundang ketidakbahagiaan terhadap kedua belah pihak. Yah, jujur saja kita semua mempunyai ketergantungan hingga beberapa tingkat tertentu (teman, mentor, senior). Ini merupakan hal yang pasti baik pada cowok/cewek. Yah, jujur saja kadang kita memang menikmati yang namanya kalau ada orang yang merasa tergantung kepada kita, karena yah kitanya menjadi merasa dibutuhkan? apa lagi di lingkungan kedokteran seperti ini, tapi mohon untuk lebih hati2 banyak juga oknum2 yang kadang memanfaatkan perasaan yang kita nikmatin itu a.k.a <em>(dibutuhkan = mudah dimanfaatkan)</em>.</p>
<p>•    Kerjasama, kerjasama, kerjasama. Berbagi tanggung-jawab. Suatu hubungan terjadi apabila ada yang dikatakan sebagai <strong>komunikasi dua arah</strong>, dan disertai dengan <em>“give and take”.</em></p>
<p>•    Usahakan untuk tetap terbuka terhadap <strong>spontanitas.</strong></p>
<p>•    Sebaiknya dapat dipahami buat semua pembaca, yang dinamakan <strong>sebuah hubungan itu pasti ada naik-turunnya</strong>, jangan hanya mengharapkan akan selalu berada diatas setiap saat. Bersama – sama berusaha melewati saat2 yang sulit akan membuat hubungan yang ada menjadi semakin erat.</p>
<p>•    Bila pembaca mempunyai sebuah hubungan yang buruk (mudah2an sih nggak), jangan melarikan diri, karena anda hanya akan mengulanginya dengan pasangan yang berikutnya. Coba saja untuk <strong>berhenti sebentar dan memahami</strong> kembali apa yang menyebabkan anda memulai hubungan tersebut. Ubahlah diri anda sebelum anda mengubah hubungan yang ada.</p>
<p>•    Mohon agar dipahami kalau <em>“LOVE”</em> bukan suatu hal yang absolut, juga bukan merupakan hal yang bisa dibilang bisa ada atau hilang sama sekali (kerennya <strong><em>“ILFIL”</em></strong>). Menurut penulis itu merupakan sebuah perasaan yang arah dan alirannya tergantung dari cara anda memperlakukan satu sama lainnya. Bila anda mempelajari suatu cara berinteraksi yang baru, maka perasaan tersebut dapat mengalir balik, bahkan lebih kuat dari yang sebelumnya.</p>
<p>Tulisan ini dibuat dengan usaha yang sangat keras agar tidak unsur rasial atau memojokkan seseorang atau sebagaimanapun juga. Dengan adanya tips ini diharapkan para mahasiswa/i baik yang ada di tahun pertama atau tahun diatasnya dapat menikmati yang namanya mempunyai <em>&#8220;hubungan khusus&#8221; </em>dengan orang pilihannya. Tidak, penulis tidak menyarankan agar semua orang mengikuti ini, apalagi kalau nantinya terpojok karena alasan religius atau kepercayaan/adat. Sebagaimana layaknya pembaca menerima dan menerapkan yang menurutnya terbaik saja.</p>
<p>Thanks For ReAding,</p>
<p>By: <strong>AAA</strong></p>
<p>Proudly presents: <strong>BIAWAK</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fkui02.net/biawak/2008/10/30/tips-menjaga-hubungan-dalam-dunia-kedokteran/feed/</wfw:commentRss>
<enclosure url="http://fkui02.net/biawak/wp-content/uploads/2008/10/11-someday-from-the-august-rush-sou.mp3" length="3668096" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Dampak Blogging bagi Mahasiswa FKUI: Fenomena yang Patut Dimoderasi</title>
		<link>http://fkui02.net/biawak/2008/10/21/dampak-blogging-bagi-mahasiswa-fkui-fenomena-yang-patut-dimoderasi/</link>
		<comments>http://fkui02.net/biawak/2008/10/21/dampak-blogging-bagi-mahasiswa-fkui-fenomena-yang-patut-dimoderasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 03:02:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BIAWAK</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Semerta-merta]]></category>

		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[dc]]></category>

		<category><![CDATA[dekan cup]]></category>

		<category><![CDATA[depok]]></category>

		<category><![CDATA[fk]]></category>

		<category><![CDATA[fkui]]></category>

		<category><![CDATA[ikm]]></category>

		<category><![CDATA[ikm fkui]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[kajian strategis]]></category>

		<category><![CDATA[kastrat]]></category>

		<category><![CDATA[maba]]></category>

		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>

		<category><![CDATA[mahasiswa baru]]></category>

		<category><![CDATA[search engine optimization]]></category>

		<category><![CDATA[senat mahasiswa]]></category>

		<category><![CDATA[seo]]></category>

		<category><![CDATA[sm fkui]]></category>

		<category><![CDATA[sm ikm fkui]]></category>

		<category><![CDATA[smfkui]]></category>

		<category><![CDATA[technical meeting]]></category>

		<category><![CDATA[ui]]></category>

		<category><![CDATA[universitas]]></category>

		<category><![CDATA[universitas indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fkui02.net/biawak/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Terbersitlah penulis untuk melancarkan artikel darurat ini dikarenakan hebohnya media internet, terkhusus penggunaan blog, sebagai instrumen perang argumen dan pembunuhan karakter yang terjadi di civitas academica FKUI baru-baru ini. Mengenai detil kasusnya, penulis tidak akan menjabarkan secara luas di sini ataupun di mana-mana, karena detil kasusnya tidak penting.
Nampaknya hal ini terjadi beriringan dengan meningkatnya apresiasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terbersitlah penulis untuk melancarkan artikel darurat ini dikarenakan hebohnya media <em>internet</em>, terkhusus penggunaan <em>blog</em>, sebagai instrumen perang argumen dan pembunuhan karakter yang terjadi di <em>civitas academica</em> FKUI baru-baru ini. Mengenai detil kasusnya, penulis tidak akan menjabarkan secara luas di sini ataupun di mana-mana, karena detil kasusnya tidak penting.</p>
<p>Nampaknya hal ini terjadi beriringan dengan meningkatnya apresiasi mahasiswa FKUI terhadap teknologi <em>internet</em> serta perkembangan konektivitas <em>internet</em> yang semakin murah dan mudah di Indonesia. Dan bentuk apresiasi itu tidak sekadar berbasa-basi ria dalam bentuk <em>spam</em> di bagian <em>comment</em> Friendster atau mengirim <em>forward</em>-an <em>email</em> ke <em>mailing list</em> himpunan mahasiswa.</p>
<p><img style="border: 0pt none ;" src="http://azaxs.files.wordpress.com/2008/01/blog.jpg" alt="" width="325" height="185" /></p>
<p>Para mahasiswa FKUI yang tadinya tidak identik dengan mahir berkomputer, apalagi ber-<em>internet</em>, sekarang sudah memiliki kulikan baru, yaitu dunia <em>blogging</em>. Tercakup di dalamnya menulis, mengomentari dan menyebar luaskan isi dari tulisan di dalam suatu <em>blog</em>. Dan hal ini dalam satu sisi menjadi masalah.</p>
<p><span id="more-14"></span></p>
<p>Dalam bahasa awam, <em>blog</em> adalah suatu bentuk pencatatan yang biasanya disusun berdasarkan kronologi waktu, yang di dalam setiap catatannya dapat berisi catatan tertulis, foto/gambar dan ataupun rekaman visual suatu peristiwa. Jelas dengan demikian, <em>blog</em> mendukung semua fungsi yang sangat mendukung seseorang untuk menceritakan situasi sehari-hari di bentang jagad maya. Ditambah lagi rerata fasilitas <em>blog</em> yang beredar cukup mudah digunakan dan banyak yang gratisan, dengan tampilan sunting yang hampir sama seperti bila pembaca mengirim <em>email</em>.</p>
<p>Secara gamblang, <em>blog</em> dapat dibaca oleh semua orang yang berkelana di dunia <em>internet</em>, sehingga dengan memanfaatkan <em>blog</em> secara optimal, suatu pemberitaan dapat diketahui seluruh dunia. Demikian maka <em>blog</em> dapat dikatakan dapat memfasilitasi seorang pengelola <em>blog</em>, atau disebut juga <em>blogger</em>, menjadi seorang pembawa berita, ataupun bahkan sebagai kantor berita.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan <em>civitas academica</em> FKUI, format <em>blog</em> nampaknya telah dipercaya sebagai wahana transfer informasi yang digunakan oleh berbagai himpunan mahasiswa, katakanlah seperti Departemen Kajian Strategis (Kastrat) Senat Mahasiswa (SM) IKM FKUI (ya lengkapnya jadi Kastrat SM IKM FKUI&#8230;) dalam <a href="http://kajianstrategis.wordpress.com/" target="_blank">blog-nya di Wordpress</a>. Untuk <em>blog</em> individual atau <em>blog</em> himpunan tak resmi (seperti BIAWAK ini), sebagai proyeksi didapatkan paling tidak 3 dari 5 mahasiswa FKUI mengelola <em>blog</em>-nya secara teratur. Silakan hitung sendiri setelah pembaca mengkonversi dari jumlah persis mahasiswa FKUI.</p>
<p>Dari pengamatan penulis, euforia utilisasi <em>blog</em> ini baru berlangsung 3 tahun belakangan di <em>civitas academica</em> FKUI. Pada awalnya <em>blogger</em> di kampus ini hanyalah seorang dosen FKUI, mahasiswa FKUI atau pegawai lab komputer yang memang melek teknologi internet dan sekadar <em>nimbrung</em> di lingkungan <em>internet</em>. Penulisan mereka berkisar dalam berbagi ilmu kesehatan populer ataupun sekadar curhat mengenai kehidupan sehari-harinya. Kala itu isi penulisan cenderung masih malu-malu serta berkesan kurang dirawat karena memang belum <em>booming</em> kala itu, lain halnya dengan kala sekarang yang lebih blak-blakan dan dalam 1 hari dapat diterbitkan lebih dari 1 <em>entry</em> tulisan.</p>
<p>Blak-blakan ini tentunya dapat membuka cakrawala para pembaca suatu <em>blog</em>, baik yang bernada negatif maupun positif. Sayangnya, sesuai pengamatan penulis belakangan ini, media <em>blog</em> kurang dimanfaatkan para mahasiswa FKUI untuk hal-hal yang berguna.</p>
<p>Idealnya <em>booming</em> dan euforia blogging ini dimanfaatkan oleh para mahasiswa kedokteran untuk berbagi informasi terkini di bidang ilmu kesehatan dan kedokteran, tetapi hal ini malah tidak dilakukan. Semakin banyak <em>blogger</em> FKUI malah menerbitkan keluh kesah mereka selama menjalani hari-hari mereka di FKUI. Keseharian yang sangat kental dengan nuansa junioritas, kesulitan dalam interaksi dengan berbagai karakteristik manusia mulai dari dosen konsultan hingga pasien <em>illiterate</em>,  variasi kasus pasien yang kadang mencengangkan dan sebagainya dijabarkan dengan blak-blakan dan ternyata bukan tidak mungkin dilancarkan dalam bahasa terminal angkutan antarkota.</p>
<p>Materi di dalamnya yang dimasalahkan adalah berupa pembunuhan karakter seseorang karena tingkah lakunya serta tabiatnya kepada orang lain ataupun hal-hal lain yang dilakukannya seperti dalam melayani pasien. Seolah-olah <em>blog</em> menjadi media kontrol sosial bagi para sampah masyarakat di lingkungan kampus, dengan publik umum sebagai penilai.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://www.sripo-online.com/upload/TAWURAN.JPG" alt="" width="400" height="231" /><br />
<em>Kerusuhan antarmahasiswa biasanya dipicu oleh hal-hal sepele (Sumber: Sriwijaya Post)</em></p>
<p>Perlu diingat bahwa FKUI sebagai institusi pendidikan tidak mengharamkan <em>feedback</em> performansi dalam bentuk sekeras apapun, alih-alih bercermin kepada keseharian dokter perintis di daerah terpencil yang harus siap dan rela menghadapi dinamika sosial yang benar-benar sulit ditebak, asalkan media dan tujuan kritik tersebut sesuai dan jelas. Demikian pula siapa yang berhak untuk berbicara pada bagian komentar, perlu dipikirkan.</p>
<p><strong>Mengapa Hal ini Harus Dipermasalahkan?</strong></p>
<p>Penulis mendapati tulisan-tulisan bernuansa keluh kesah ini tidak jelas tujuan serta sasaran penulisannya. Gaya penulisan menggunakan bahasa sindiran dengan semangat emosional tahun 45 menyebabkan isi tulisan tersebut hanya penuh hujatan dan sindiran tanpa memperhatikan subjek pembicaraan spesifik, akibatnya terjadi multitafsir. Apa yang hendak disampaikan menjadi tidak jelas, siapa bermasalah dengan siapa menjadi bias dan dilebih-lebihkan. Penulis berpikir isi yang seperti ini tidaklah pantas mengisi khazanah tulisan di jagad maya karena tidak menyebabkan orang menjadi lebih pintar dan malah tidak bersifat kritis.</p>
<p>Para <em>blogger</em> ini juga tidak mengerti akan dibaca oleh siapa saja tulisan kritis mereka itu. Mereka berpikir, &#8220;biarkan saja kontrol sosial dilakukan oleh publik, biarkan publik yang menilai&#8221;. Pertanyaannya adalah publik yang mana yang layak untuk melakukan kontrol di dalam <em>civitas academica</em> FKUI. Mereka tidak berpikir secara luas; apabila dibaca oleh sesama <em>civitas academica</em> FKUI apa yang akan terjadi dengan diri mereka dan subjek pembunuhan karakter dalam tulisan mereka, apakah akan terkena sanksi akademis atau tidak, atau akan terjadi perselisihan antar angkatan yang tadinya hanya perselisihan antar panitia saja misalnya; apabila dibaca oleh orang-orang di luar sistem apa yang akan terjadi dengan diri mereka dan subjek pembunuhan karakter dalam tulisan mereka, apakah akan dikenai tuntutan pidana atas pencemaran nama baik atau menjadi korban kekerasan ketika berada di luar kampus; dan sebagainya.</p>
<p>Penulis yakin seyakin-yakinnya, tulisan mewek itu dibuat tidak berdasarkan analisa dampak sampai sejauh itu. Mereka juga lupa bahwa masalah ini masih dalam lingkup institusi, bukan lingkup global. Mereka telah mengumbar kejelekan dari apa yang mereka harusnya junjung tinggi.</p>
<p><strong>Saran</strong></p>
<p>Karena ketidak mahiran para <em>blogger</em> FKUI dalam memilah apa yang perlu dibagi dan diambil dari jagad maya, perlu diadakannya pendidikan mengenai pemanfaatan <em>internet</em> sebagai media pembelajaran tanpa batas. Walau terlarut sayup-sayup euforia dan malu bila dikatakan gagal tanggap teknologi, mereka perlu membedakan mana berita yang perlu disebarkan, mana berita yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan mana berita yang memang pantas diolah di dalam otak mereka sendiri. Sampai saat ini penulis masih melihat penggunaan Wikipedia sebagai narasumber makalah ilmiah, jadi wajar saja bila masih sedikit kontribusi FKUI dalam dunia penulisan ilmiah karena masih berperilaku tidak ilmiah.</p>
<p>Kehebohan perang <em>blog</em> ini juga menunjukkan bahwa ketidak mampuan (atau halusnya, kegagalan&#8230; sama saja ya?) para <em>civitas academica </em>kampus untuk membentuk karakter mahasiswa FKUI, semua bertanggung jawab mulai dari para senior mahasiswa preklinik hingga klinik hingga para residen serta staf pendidik. Harus diingat bahwa jenjang profesi yang ada di FKUI itu adalah program <strong>pendidikan dokter umum</strong>, bukan jurusan <strong>ilmu kedokteran umum</strong>.</p>
<p>Tidak sekadar ilmu saja yang harus dijunjung tinggi, tetapi juga harus dibentuk kepribadian seorang dokter yang mampu berpikir, sigap, tegar, bertanggung jawab, mampu bekerja sebagai tim dan berakhlaq, agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia dan dunia dewasa ini. Demikian pula memiliki sikap menghormati sesama sejawat dan melakukan kritisme melalui jalur yang sesuai dengan etika profesi. Bukan dokter yang mudah terbakar euforia, manipulatif, menghasut sejawatnya satu sama lain, tidak tahan kritik dan memiliki manajemen risiko yang kurang baik karena pengetahuan dampak yang sangat minim.<br />
<img style="border: 0pt none;" src="http://img229.imageshack.us/img229/6981/image0011a25e8yi6.jpg" alt="" width="354" height="265" /><br />
<em>Bila pembaca sebagai mahasiswa kedokteran mampu menangani pasien seperti ini sendirian,<br />
silakan saja berlaku liar (Sumber: srisariningdiyah.multiply.com)</em></p>
<p>Karena pada hakikatnya, ini semua adalah demi pasien.</p>
<p><strong>(Tertulis oleh iR)</strong></p>
<p><em>Penulis selama ini tidak luput dari dampak tulisan satirikal yang mungkin mencetuskan amarah para pembaca setia BIAWAK, untuk itu penulis memohon maaf sebesar-besarnya dan memohon izin para pembaca untuk terus menulis.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fkui02.net/biawak/2008/10/21/dampak-blogging-bagi-mahasiswa-fkui-fenomena-yang-patut-dimoderasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>No Free Sex instead of Safe Sex</title>
		<link>http://fkui02.net/biawak/2008/10/08/no-free-sex-instead-of-safe-sex/</link>
		<comments>http://fkui02.net/biawak/2008/10/08/no-free-sex-instead-of-safe-sex/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 02:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BIAWAK</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Infectious Medicine]]></category>

		<category><![CDATA[Selayang Pandang]]></category>

		<category><![CDATA[AIDS]]></category>

		<category><![CDATA[free sex]]></category>

		<category><![CDATA[gonorrhea]]></category>

		<category><![CDATA[hamil]]></category>

		<category><![CDATA[hepatitis]]></category>

		<category><![CDATA[herpes]]></category>

		<category><![CDATA[HIV]]></category>

		<category><![CDATA[HPV]]></category>

		<category><![CDATA[infection]]></category>

		<category><![CDATA[infectious]]></category>

		<category><![CDATA[infeksi]]></category>

		<category><![CDATA[kondom]]></category>

		<category><![CDATA[kontrasepsi]]></category>

		<category><![CDATA[penyakit menular sexual]]></category>

		<category><![CDATA[premarital sex]]></category>

		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<category><![CDATA[seks bebas]]></category>

		<category><![CDATA[seksual]]></category>

		<category><![CDATA[sex]]></category>

		<category><![CDATA[sifilis]]></category>

		<category><![CDATA[STD]]></category>

		<category><![CDATA[syphilis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fkui02.net/biawak/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan intim atau disebut juga seks untuk tujuan berkembang biak merupakan salah satu ciri mahluk hidup dalam mempertahankan jenisnya. Walaupun hal ini, nyatanya, tidak selalu berlaku karena terdapat fenomena homoseksual yang menyebabkan adanya hubungan seksual antara pasangan sejenis yang tentu saja tidak dapat menyebabkan terjadinya kehamilan.
Bagi umat manusia sendiri, seks dapat berarti macam-macam. Seks dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hubungan intim atau disebut juga seks untuk tujuan berkembang biak merupakan salah satu ciri mahluk hidup dalam mempertahankan jenisnya. Walaupun hal ini, nyatanya, tidak selalu berlaku karena terdapat fenomena homoseksual yang menyebabkan adanya hubungan seksual antara pasangan sejenis yang tentu saja tidak dapat menyebabkan terjadinya kehamilan.</p>
<p>Bagi umat manusia sendiri, seks dapat berarti macam-macam. Seks dapat berarti ritual bagi seseorang, sekaligus dapat menjadi dosa bagi seseorang apabila tidak dijalankan sesuai perintah agama yang dianutnya. Seks juga dapat berarti hiburan dalam memenuhi hawa nafsu dan kepenatan jiwa, sekaligus bencana apabila terjadi kehamilan yang tidak diinginkan oleh sepasang intim ataupun apabila timbul penyakit yang mematikan akibat seks.</p>
<p>Pada kesempatan kali ini, penulis mengajak pembaca untuk merenungkan kembali bahwa seks dalam satu sisi benar adanya, merupakan masalah individu maupun masyarakat. Seks memang merupakan salah satu kebutuhan mahluk hidup seperti telah diutarakan sebelumnya, tetapi seks belakangan ini telah dijadikan komoditas bisnis yang sangat menggiurkan dan pasti prospektif.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/2007_0507_freexes/safesex1.jpg" alt="" /></p>
<p>Seks sebagai komoditas bisnis tidaklah semata-mata terjadi dalam dunia prostitusi dan pornografi. Salah satu bentuk komoditas bisnis yang mengganggu pikiran penulis dan akan dibahas kali ini adalah seks sebagai wacana, sebagai mata uang, yang cukup menjual dalam bisnis alat kontrasepsi.</p>
<p><span id="more-11"></span></p>
<p>Bukanlah fakta yang dibuat-buat bahwa melalui seks dapat ditularkan berbagai jenis penyakit. Mulai dari yang sepele seperti gatal-gatal hingga yang mematikan seperti sindroma defisiensi imunitas didapat atau kerennya disebut <em>acquired immunodeficiency syndrome</em> (AIDS).</p>
<p>Para pebisnis alat kontrasepsi, sekaligus pengaman dari infeksi menular seksual, seperti kondom, menggunakan fakta ini untuk dapat menjual produknya di masyarakat. Masyarakat sendiri sudah mulai ”memaklumi” betapa perilaku seks bebas sudah tidak dapat dicegah lagi. Para tokoh masyarakat yang juga gatal dengan perilaku seks bebas pun ikutan ”memaklumi” hal ini. Pun akhirnya terciptalah kolaborasi dari kedua elemen tersebut, terbentuklah kampanye anti seks bebas tanpa menggunakan kontrasepsi, atau dengan kata lain perilaku seks yang aman (<em>safe sex</em>).</p>
<p>Berbagai aktivitas kampanye ini pun bergulir, seperti pembagian kondom gratis, seminar-seminar seputar penggunaan kondom, iklan-iklan kondom di dalam tayangan stasiun televisi, siaran radio, majalah-majalah anak muda dan sebagainya.</p>
<p>Demikian maka perilaku seks aman dapat menjadi pertimbangan bagi para pelaku seks bebas (<em>free sex</em>). Diharapkan dengan demikian maka kejadian infeksi <em>human immunodeficiency virus</em> (HIV) penyebab AIDS, sebagai tolok ukur paling dibincangkan sebagai infeksi seksual, menjadi berkurang.</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<table class="MsoNormalTable" style="width: 93.58%; margin-left: 6.75pt; margin-right: 6.75pt;" border="1" cellpadding="0" width="93%" align="left">
<tbody>
<tr style="height: 2.6pt;">
<td style="border: medium none; padding: 0.75pt; width: 99.26%; height: 2.6pt;" colspan="2" width="99%" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Tabel 1. Penyakit Infeksi Menular Seksual dan   Gejala yang Ditimbulkannya</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height: 328pt;">
<td style="padding: 0.75pt; width: 47.14%; height: 328pt; border: 1pt medium medium solid none none windowtext -moz-use-text-color -moz-use-text-color;" width="47%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Penyakit</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Chlamydia (1)</span></strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><a name="Gonorrhea"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></a></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Gonorrhea (2)</span></strong></span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><a name="Genital_Human_Papillomavirus_HPV"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></a></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Papillomavirus, HPV (3)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><a name="Herpes_(HSV-2)"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></a></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Herpes (HSV-2) (4)</span></strong></span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><a name="Hepatitis_B"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></a></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Hepatitis B (5)</span></strong></span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><a name="HIV_-_AIDS"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></a></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">HIV - AIDS (6)</span></strong></span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><a name="Syphilis"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></a></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">S</span></strong></span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">ifilis (7)<br />
</span></strong></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></td>
<td style="padding: 0.75pt; width: 51.76%; height: 328pt; border: 1pt medium medium solid none none windowtext -moz-use-text-color -moz-use-text-color;" width="51%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Gejala</span></strong></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(1) Perasaan   panas ketika buang air kecil; nyeri perut bagian bawah ketika berhubungan   seks, perdarahan antara waktu menstruasi (wanita); rasa gatal atau nyeri di   penis &amp; bengkak biji pelir. Dapat menyebabkan mandul. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(2) Gejala   mirip dengan chlamydia, dapat pula menyebabkan mandul.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(3) Terdapat   kondilomata, suatu massa   lunak berwarna pucat di sekitar vagina atau anus; pada penis atau biji pelir;   biasanya timbul 3 minggu hingga 6 bulan setelah terinfeksi. Dapat   menyebabkan kanker mulut rahim dan penis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(4) Rasa   terbakar di kelamin, nyeri punggung bawah, nyeri berkemih, benjolan-benjolan   nyeri di sekitar organ seksual, gejala-gejala infeksi virus (batuk pilek,   demam, sengkelan) </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(5) </span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: #cc0000;">Biasanya gejala baru timbul bertahun-tahun setelah terinfeksi. </span></strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Dapat menular secara seksual melalui kontak luka dan cairan mani.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(6) Gejala   baru muncul sekitar 7 hingga 9 tahun dan tidak khas: penurunan berat badan   drastis, demam ringan, sakit kepala, diare, keletihan; biasanya hilang timbul   berlangsung berbulan-bulan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(7) Awalnya   timbul kemerahan tidak nyeri setelah 10 hingga 90 hari setelah kontak seksual.    Kemudian pada sekitar minggu 3 hingga bulan 6 timbul gejala berat seperti kebutaan,   gangguan saraf, gangguan kejiwaan dan kematian.</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height: 2.1pt;">
<td style="border: medium none; padding: 0.75pt; width: 99.26%; height: 2.1pt;" colspan="2" width="99%" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Lainnya, silakan tengok di herpesonline.com</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tetapi pernahkah ada pelaporan bahwa berkat kampanye ini, angka kejadian AIDS menjadi berkurang? Justru yang terjadi adalah semakin meningkatnya angka kejadian AIDS dari tahun ke tahun, walaupun tidak ada laporan penelitian (dan secara logis) bahwa penggunaan kondom menyebabkan meningkatnya angka kejadian AIDS secara teknis.</p>
<p>Seharusnya para polisi moral macam ahli kesehatan, tokoh masyarat, pemuka agama dan orang tua, menyadari bahwa memberikan pengaman berupa kondom tidak lantas akan mengurangi terjadinya infeksi menular seksual. Dari berbagai pendapat, dikatakan bahwa justru kondom menyebabkan perilaku seks bebas semakin marak. Seksual bebas sendiri, menurut penulis, adalah perilaku seks yang pada seseorang yang melibatkan lebih dari satu orang pasangan lainnya dan cenderung untuk tidak terikat secara hukum.</p>
<p>Memang dilaporkan bahwa kondom dapat menurunkan risiko kehamilan hingga sekitar 12% dan menurunkan risiko tertular kuman penyebab infeksi menular seksual hingga sekitar 15%. Akan tetapi bila perilaku seks bebas tetap diteruskan, angka ini hanya sekadar angka belaka.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://www.bium.univ-paris5.fr/sfhd/img/gd/image12g.jpg" alt="Syphilis" width="244" height="251" /><br />
<em>Kelainan muka oleh sebab sifilis (sumber: internet)</em></p>
<p>Untuk itu, sebaiknya perlu dilakukan rasionalisasi ulang konsep kampanye <em>safe sex</em> karena sudah terbukti bahwa penggunaan alat pengaman macam kondom secara global tidak menurunkan angka kejadian infeksi seksual seperti AIDS.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://www.nde.state.ne.us/SS/CSSAP%20Modules/CSSAP%20First%20Phase%20Modules/pandemics/fa3.gif" alt="Estimated Number of AIDS Cases, Deaths, and Persons Living with AIDS, 1985 - 2003, United States" width="360" height="240" /><br />
<em>(Sumber: CDC.gov)</em></p>
<p>Di lain pihak kampanye ini malah cenderung terus menguntungkan pihak pebisnis kondom, demikian pula pihak-pihak lain seperti tokoh masyarakat dadakan, ahli seksual dadakan, pengkhotbah dadakan, stasiun televisi dan sebagainya. Walau demikian, agaklah rancu bila penulis mengusulkan untuk menghentikan kampanye <em>safe sex</em> dari muka bumi karena secara naif, hal ini tujuannya baik karena untuk mencegah meledaknya angka kelahiran, masalah rumah tangga akibat kehamilan yang tidak diinginkan dan penularan infeksi seksual.</p>
<p>Penulis mengusulkan untuk kembali menggalakkan kampanye <em>no free sex</em>. Tidak berperilaku seksual bebas. Indonesia yang (kabarnya) berbudaya timur dan sangat mengagungkan moral agama, seharusnya mampu menggalakkan kampanye ini.</p>
<p>Mulailah dengan memperbaiki pendidikan moral oleh orang tua, pengajar di sekolah dan pemuka agama. Mulailah dengan memberikan pengertian bahwa perilaku seks dengan berdasar hawa nafsu hanya akan membawa bencana seperti telah dijelaskan sebelumnya, macam kehamilan yang tidak diinginkan dan penyakit seksual.</p>
<p>Hal ini dapat dilakukan bagi orangtua dan polisi moral lainnya dengan menjadi teladan bagi anak-anak dan muda-mudi. Pemuka agama yang pro poligami janganlah berbicara antipornografi bila toh masyarakat ada yang mengidentikan poligami sebagai pemenuhan hawa nafsu belaka. Ajaklah mereka untuk berbuat baik dan jujur terhadap sesama, disiplin, taat hukum dan sebagainya yang sesungguhnya sangat <em>textbook</em> sekali.</p>
<p>Melarang timbulnya pornoaksi (bila benar adanya kata ini di kamus besar Bahasa Indonesia), menurut penulis, tidak akan berdampak apa-apa dengan perilaku seks bebas karena seks itu sendiri sudah ada sebelum manusia menjajakkan kaki di bumi. Tinggal manusianya sajalah apakah memiliki ”rem” yang kuat terhadap hawa nafsunya.</p>
<p>Begitu juga kepada para ahli kesehatan untuk kembali menggunakan kompetensinya memberi pelayanan informasi betapa seks bebas sangat berisiko tinggi dan mengingatkan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.</p>
<p>Jangan sampai manusia punah dari muka bumi hanya karena penyakit infeksi seksual. Mungkin sesungguhnya Tuhan melarang adanya zinah adalah karena hal ini, sebagai realisasi perkataanNya betapa zinah dekat dengan setan. Maka mulai sekarang, <em>say no to free sex</em>!</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/2007_0507_freexes/110px-Red_Ribbon.png" alt="" width="110" height="164" /></p>
<p><em>Catatan: penulis masih perjaka&#8230; jadi bila ingin menuding penulis sebagai seorang munafik, silakan dipikirkan kembali</em></p>
<p><strong>Tertulis oleh iR</strong></p>
<p><strong>Narasumber:</strong></p>
<ul>
<li>Wilopo SA. Perkembangan Teknologi Kontrasepsi Pria Terkini<br />
http://pikas.bkkbn.go.id/gemapria/article-detail.php?artid=22</li>
<li>The Condom. Planned Parenthood<br />
http://www.plannedparenthood.org/birth-control-pregnancy/birth-control/condom.htm</li>
</ul>
<blockquote><p>Topik ini diterbitkan pertama kali di BIAWAK generasi I pada bulan Januari 2007 dan berhasil ditemukan kembali dan dipublikasikan kembali pada bulan Oktober 2008 dengan sedikit perubahan seperlunya.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fkui02.net/biawak/2008/10/08/no-free-sex-instead-of-safe-sex/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pertanyaan yang Lazim Dilontarkan kepada Mahasiswa Kedokteran</title>
		<link>http://fkui02.net/biawak/2008/10/07/pertanyaan-yang-lazim-dilontarkan-kepada-mahasiswa-kedokteran/</link>
		<comments>http://fkui02.net/biawak/2008/10/07/pertanyaan-yang-lazim-dilontarkan-kepada-mahasiswa-kedokteran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 12:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BIAWAK</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Semerta-merta]]></category>

		<category><![CDATA[basa basi]]></category>

		<category><![CDATA[bedah mayat]]></category>

		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>

		<category><![CDATA[klise]]></category>

		<category><![CDATA[mahasiswa kedokteran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fkui02.net/biawak/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Enam tahun sudah BIAWAK berkuliah bersama-sama di FKUI. Selama itu pula  banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada penulis, dan kepada semua mahasiswa kedokteran secara umum, dari orang-orang yang mungkin maksudnya basa-basi untuk membuka pembicaraan atau memang sebagai pertanyaan serius.

Mahasiswa Kedokteran (sumber: mekidian.com)
Pertanyaan seputar perkuliahan kedokteran ini dapat saja dilontarkan dari sanak saudara, teman-teman yang tidak berkuliah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Enam tahun sudah BIAWAK berkuliah bersama-sama di FKUI. Selama itu pula  banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada penulis, dan kepada semua mahasiswa kedokteran secara umum, dari orang-orang yang mungkin maksudnya basa-basi untuk membuka pembicaraan atau memang sebagai pertanyaan serius.</p>
<p><img style="border: 0pt none ;" src="http://www.mekidian.com/images/Clinical-Clerkship.gif" alt="" width="300" height="200" /><br />
<em>Mahasiswa Kedokteran (sumber: mekidian.com)</em></p>
<p>Pertanyaan seputar perkuliahan kedokteran ini dapat saja dilontarkan dari sanak saudara, teman-teman yang tidak berkuliah di fakultas kedokteran atau <em>total stranger</em> yang mengajak pembaca untuk ngobrol. Biasanya semua pertanyaan dan dialog ini diawali dengan pertanyaan, “Mbak/mas ini kuliah di mana ya?” dan setelah itu serentetan pertanyaan klise pun mulai digulirkan.</p>
<p>Para tulisan kali ini, penulis merangkum 10 pertanyaan yang pernah dilontarkan, paling tidak, kepada penulis dan berusaha memberikan penjelasan jawaban yang lazim.</p>
<p>Demikian diharapkan kepada para pembaca kaum sipil (nonfakultas kedokteran) dapat menemukan jawabannya dalam tulisan ini sehingga untuk kesempatan tatap muka berikutnya dengan seorang mahasiswa kedokteran, tidak perlulah lagi basa-basi dengan bertanya mengenai kehidupan kami sebagai mahasiswa kedokteran yang penuh kesibukan, romantika dan misteri ini.</p>
<p><span id="more-10"></span></p>
<p><strong>“Kuliah di kedokteran? Pintar dong”</strong><br />
Pertanyaan ini biasanya didahului oleh jawaban “di kedokteran (masukkan nama universitas),” terhadap pertanyaan paling dasar, “kuliah di mana?”. Menurut pengalaman penulis, pertanyaan ini tergolong retorik dan sangat basa-basi karena pada kenyataannya tiada gading yang tak retak. Berkuliah di kedokteran bukan berarti orang tersebut pintar, mengingat definisi pintar itu luas sekali dan tidak semua orang pintar laik untuk berkuliah di kedokteran. Lagipula, dapat saja seseorang mengaku-ngaku berkuliah di fakultas kedokteran seperti pengalaman dari seorang narasumber, entah biar dianggap pintar atau berguna.</p>
<p><strong>“Kuliah di kedokteran? Lama dong”</strong><br />
Lagi-lagi pertanyaan berupa pernyataan yang retorik dan menyiksa sanubari si tertanya. Semua orang terdidik sudah tahu bahwa kuliah kedokteran tergolong lama dibandingkan jurusan lain. Penulis tidak mengerti apa yang penanya harapkan dari si tertanya atas pertanyaan berupa pernyataan ini, apakah harus kesal, sumringah atau harus menampar penanya.</p>
<p>Bentuk pertanyaan serupa yang menyinggung lama perkuliahan seperti yang biasa dilontarkan kepada mahasiswa laki-laki, “kapan nikahnya?”. Sekali lagi ini pertanyaan ini menimbulkan pemikiran mengenai apa pentingnya pertanyaan ini. Apakah si penanya bermaksud mencarikan jodoh bagi si tertanya atau si penanya sedang bercermin kepada diri sendiri mengenai betapa lamanya pendidikan kedokteran, yang pasti ini merupakan pertanyaan retorik dan punya urusan apa si penanya bertanya mengenai hal pribadi macam ini.</p>
<p><strong>“Sudah semester berapa?”</strong><br />
Sebenarnya pertanyaan ini tidak hanya dilontarkan kepada mahasiswa kedokteran saja, sehingga menurut penulis pertanyaan ini paling terkesan basa-basi.</p>
<p>Berbeda dengan nonfakultas kedokteran, FKUI termasuk dalam perkuliahan yang telah terjadwal tiap tahunnya, bukan tiap semesternya. Tiap tahun akan dijadwalkan mata kuliah yang pasti wajib diambil mahasiswa persetan dengan jumlah SKS-nya yang rerata per tahun adalah 48 SKS. Tidak ada semester pendek untuk perbaikan nilai dan “menyodok” agar cepat lulus. Hal serupa juga ditemukan pada fakultas kedokteran universitas lain.</p>
<p>Singkatnya, jadwal kuliah telah disusun untuk setahun dan cukup berbeda dibandingkan fakultas lain. Biasanya mata kuliah ini berjalan tidak secara paralel, misalnya mata kuliah B baru akan dimulai setelah mata kuliah A selesai. Pula tidak jarang satu mata kuliah masih berlangsung dalam 2 semester yang berbeda, misalnya mata kuliah C selama 12 minggu yang dilaksanakan pada akhir semester gasal dan  selesai pada pertengahan semester genap, sehingga kadang tidak disertai libur antarsemester.</p>
<p>Mahasiswa kedokteran tentu akan malas menjawab mereka sudah kuliah di semester berapa, selain karena pendidikan kedokteran yang memakan waktu antara 5,5 – 6 tahun sehingga akan merepotkan bila dikonversi ke bentuk semester, juga karena rotasi mata kuliah itu sendiri dijadwalkan tidak dibagi per semester melainkan per tahun penuh.</p>
<p>Pelontar pertanyaan ini juga dapat dianggap sebagai orang yang tidak mengerti keadaan di fakultas kedokteran dan patut dimaklumi keawamannya. Walau demikian penulis menghargai mayoritas alumnus UI dari fakultas manapun karena mengetahui fakultas kedokteran, terutama FKUI, menjalankan sistem tahun, bukan semester sehingga pertanyaan basa-basi mereka menjadi, “Sudah kuliah tahun ke berapa?”</p>
<p><strong>“Ambil jurusan apa?”</strong><br />
Karena pertanyaan ini sering timbul setelah pertanyaan, “Kuliah di mana?” atau “Fakultas apa?”, penulis sangat prihatin dan bingung dengan pertanyaan ini karena entah apa yang dipikirkan penanya sebelum menanyakan pertanyaan ini.</p>
<p>Sepertinya hampir semua orang terdidik mengerti bahwa pendidikan dokter umum rerata terdiri atas 4 tahun pendidikan sarjana kedokteran (S.Ked) dilanjutkan 2 tahun pendidikan profesi dokter untuk menjadi dokter umum (dr.) tanpa ada penjurusan karena ini adalah pendidikan dokter umum. Lantas apa yang mereka maksud dengan jurusan pada fakultas kedokteran? Memang di fakultas lain memiliki berbagai penjurusan dan peminatan, tetapi dalam konteks kuliah kedokteran, pertanyaan ini sangat amat menempatkan si penanya benar-benar sekadar basa-basi tidak peduli dengan jawabannya… dan terkesan bodoh.</p>
<p><strong>“Ambil spesialis/spesialisasi apa?”</strong><br />
Pertanyaan ini merupakan usaha yang bagus untuk memperhalus kebodohan dalam berbasa-basi dibandingkan menanyakan jurusan kuliah tetapi perlu diketahui jenjang-jenjang pendidikan dokter seperti dijelaskan di atas. Untuk menjadi dokter spesialis, perlu lulus dokter umum dulu dan itu pun baru boleh setelah mengikuti berbagai prosedur misalnya mengikuti program pegawai tak tetap (PTT) sebagai dokter puskesmas di daerah-daerah atau di rumah sakit umum daerah.</p>
<p>Pertanyaan ini juga dilontarkan oleh orang-orang yang mengerti dengan kehidupan mahasiswa kedokteran terutama bagi mereka yang lebih menghargai eksistensi dokter spesialis dibandingkan dokter umum yang sebenarnya merupakan lini pertama dalam usaha kesehatan masyarakat.</p>
<p>Tetapi pertanyaan ini tentu saja aplikatif kepada mahasiswa pendidikan dokter spesialis sehingga penulis yang masih dalam pendidikan dokter umum, tidak berkompeten untuk menjabarkan pengalaman seputar hal ini.</p>
<p><strong>“Berapa IP-nya?”</strong><br />
Sekali lagi, pertanyaan seputar Indeks Prestasi (IP) merupakan pertanyaan tidak penting dan sekadar basa-basi yang dapat dialami pula oleh mahasiswa manapun. Penanya terutama yang bukan seorang akademisi tentunya tidak akan merespon balik dengan membantu memanipulasi IP agar menjadi bagus, membantu mencari lahan pekerjaan dengan IP yang mungkin kurang bagus dan sebagainya yang berguna. Mereka hanya basa-basi dan ini harus dibungkam.</p>
<p><strong>“Sudah pernah bedah mayat?”</strong></p>
<p>Penulis menemukan pertanyaan ini adalah yang paling sering dilontarkan dan diulang-ulang. Semenjak penulis masuk ke jenjang klinik, penulis semakin bingung dengan pertanyaan ini.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/2008_oct_6_pertanyaan/autopsy1900mi7.jpg" alt="" width="320" height="252" /><br />
<em>Otopsi pada mayat segar (Sumber: internet)</em></p>
<p>Menurut pengalaman penulis, “mayat” dapat berupa kadaver sebagai sediaan praktikum anatomi atau mayat sebenar-benarnya mayat dalam pembahasan mata kuliah forensik. Praktikum anatomi sendiri bertujuan untuk mengenali organ-organ tubuh manusia dari ujung rambut sampe ujung kaki, sementara praktikum forensik (disebut juga otopsi) lebih ditekankan kepada masalah-masalah yang dapat terjadi dalam tubuh manusia terutama dari aspek sebab kematian dan medikolegal. Anatomi menekankan kepada hapalan sementara forensik menekankan kepada analisa temuan dari tubuh manusia, baik dari dalam tubuh manusia maupun yang berasal dari luar tubuh.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/2008_oct_6_pertanyaan/051118_cadaver.jpg" alt="" width="320" height="294" /><br />
<em>Patung kadaver untuk mata kuliah Anatomi (Sumber: Nat Geo)</em></p>
<p>Ada beberapa prosedur “bedah mayat”, dalam artian kadaver, untuk menyiapkan sediaan praktikum anatomi, seperti yang dilakukan sejawat Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang ketika mengikuti praktikum anatomi. Sementara di FKUI dan FK Universitas Trisakti Jakarta menurut pengalaman penulis, sediaan anatomi telah disiapkan untuk kemudian langsung dipelajari mahasiswa tanpa harus melakukan bedah mayat.</p>
<p>Persepsi lain yang penulis pikirkan adalah bedah mayat yang dimaksud adalah bedah kodok. Entah bila di fakultas kedokteran universitas lain, mahasiswa FKUI tahun pertama mengikuti mata kuliah Biologi Kedokteran yang juga mengadakan praktikum bedah kodok sebagai perkenalan dengan anatomi organ di dalam tubuh. Setiap sediaan ini disiapkan sendiri oleh mahasiswa sehingga dapat dibilang sebagai bedah mayat. Akan tetapi praktikum ini tampaknya sudah ditiadakan mengingat adanya kurikulum fakultas yang baru sejak tahun 2005 silam.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/2008_oct_6_pertanyaan/female1.jpg" alt="" width="320" height="213" /><br />
<em>Contoh sediaan kodok untuk praktikum Biologi (Sumber: internet)</em></p>
<p>Praktikum dengan kodok juga digunakan dalam mata kuliah Fisiologi Kedokteran di FKUI, untuk mengamati gerak otot paha dari kodok yang juga untuk mendapatkan otot paha kodok, dilakukan bedah mayat kodok.</p>
<p>Bila pun dijelaskan perbedaan kadaver dengan mayat segar beserta tujuan mempelajari mayat-mayat tersebut kepada penanya, penulis meragukan mereka akan mengerti dan mendengarkan jawabannya. Bahkan ada penanya sinting yang bertanya, “kadavernya ada yang cantik gak?” yang menunjukkan bahwa penanya laik untuk dijauhi dan difitnah sebagai penggemar mayat ataupun nekrofilia.</p>
<p><strong>“Sering lihat orang mati/kecelakaan?”</strong><br />
Menurut penulis, ini adalah pertanyaan yang dapat merusak hak pribadi para pasien dan mengusik kompetensi mahasiswa kedokteran. Sebagai dokter maupun mahasiswa yang bekerja di bangsal rawat inap maupun bangsal gawat darurat, adalah suatu rutinitas dan tak terelakkan untuk menghadapi pasien akibat kecelakaan maupun menghadapi kematian pasien baik karena keadaan gawat tak tertolong maupun telah melalui proses resusitasi.</p>
<p>Untuk tujuan apa penanya menanyakan hal tersebut? Si penanya akan bertanya penyebab kematian si pasien, tak sadar telah mencabik-cabikkan hak pribadi almarhum pasien beserta keluarganya yang sedang berduka. Pertanyaan ini sekaligus mengolok-olok seorang mahasiswa kedokteran, seolah-olah pengalaman yang telah dialami mahasiswa tersebut mengada-ada dan semata-mata demi basa-basi karena si penanya menanyakan sesuatu yang sudah pasti.</p>
<p><strong>“Kenal dengan si (masukkan sembarang nama)?”</strong><br />
Ini merupakan pertanyaan basa-basi paling universal sepanjang jaman. Teknik jual nama semata-mata untuk memvalidasi bahwa si penanya ingin dianggap dengan menanyakan seseorang yang juga berkuliah di fakultas yang sama dengan si tertanya ataupun rekaan semata atas nama basa-basi.</p>
<p>Dapat pula yang ditanyakan adalah nama-nama dokter/profesor yang beken misalnya yang sering muncul di televisi, padahal si penanya belum tentu memiliki hubungan komunikasi dengan dokter/profesor tersebut.</p>
<p>Dapat pula yang ditanyakan adalah nama-nama artis-artis yang berkuliah kedokteran seperti RN di FK Universitas Trisakti, JF di FKUI Internasional, T di bagian Ilmu Bedah FKUI dan sebagainya. Namun tetap saja si penanya hanya sebatas rakyat jelata, sama seperti penulis.</p>
<p><strong>“Cewek-cewek/cowok-cowoknya cakep gak?”</strong><br />
Pertanyaan ini terbilang cukup universal dan basi, tetapi kemungkinan dari pertanyaan ini akan timbul proses perjodohan tidaklah jarang. Pertanyaan ini menurut penulis adalah satu-satunya pertanyaan basa-basi yang penting untuk terus diterapkan baik terhadap mahasiswa kedokteran maupun mahasiswa jurusan lain karena paling tidak pertanyaan ini dapat mengubah dialog monoton basa-basi menjadi ajang tukar menukar info yang seru dan menegangkan.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/2008_oct_6_pertanyaan/n555523608_321174_3319.jpg" alt="" width="320" height="213" /><br />
<em>Wanita-wanita cantik dari FKUI angkatan 2002</em></p>
<p><strong>Saran</strong></p>
<p>Akhir kata, penulis menyarankan kepada para penanya untuk bertanya hal yang lebih berbobot kepada mahasiswa kedokteran, sesuai pengalaman penulis, seperti:</p>
<ul>
<li>“Obat xxx isinya apa toh?”</li>
<li>“Kulit kena cacar itu kan berbekas, bisa ilang cepet gak?”</li>
<li>“Obat AIDS yang dapet gratis dari pemerintah, merknya apa aja sih?”</li>
<li>“Diet itu harus berarti gak makan ya, mas?”</li>
<li>“Lebih baik makan tomat langsung atau dibuat jus ya, mas?”</li>
<li>“Obat jantung kok macam-macam ya, mas? Memang efeknya apa saja?”</li>
<li>“Saya pengen ikut KB tapi lain waktu saya pengen hamil lagi, KB apa yang harus saya ikuti?”</li>
<li>“Cewek-cewek/cowok-cowoknya cakep gak?”</li>
<li>Dan sebagainya</li>
</ul>
<p>Janganlah malu untuk bertanya seputar masalah kesehatan kepada mahasiswa kedokteran walaupun mungkin si tertanya baru masuk tahun pertama. Dengan dihadapkan kepada pertanyaan yang pintar, walau maksudnya basa-basi pun, akan melatih kemampuan para mahasiswa kedokteran dan menghargai eksistensi kami. Anda pun harusnya bangga karena terlibat dalam proses pembelajaran kami, mahasiswa kedokteran, dengan bertanya.</p>
<p><strong>Tertulis oleh iR, diperbantukan oleh ivanr23</strong></p>
<blockquote><p>Topik ini dimuat di BIAWAK generasi I pada bulan Februari 2007 dan ditemukan kembali serta dipublikasikan kembali pada bulan Oktober 2008 dengan beberapa perubahan seperlunya.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fkui02.net/biawak/2008/10/07/pertanyaan-yang-lazim-dilontarkan-kepada-mahasiswa-kedokteran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Universal Precautions dalam Kehidupan Sehari-hari</title>
		<link>http://fkui02.net/biawak/2008/10/06/universal-precautions-dalam-kehidupan-sehari-hari/</link>
		<comments>http://fkui02.net/biawak/2008/10/06/universal-precautions-dalam-kehidupan-sehari-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 12:26:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BIAWAK</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Infectious Medicine]]></category>

		<category><![CDATA[alat pencegahan diri]]></category>

		<category><![CDATA[apd]]></category>

		<category><![CDATA[infection]]></category>

		<category><![CDATA[infeksi]]></category>

		<category><![CDATA[precaution]]></category>

		<category><![CDATA[protection]]></category>

		<category><![CDATA[universal precaution]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fkui02.net/biawak/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai insan yang berurusan dengan fasilitas kesehatan (dan pembaca awam secara umumnya), sudah selayaknya kita untuk melakukan pencegahan penyebaran penyakit yang dapat disebabkan oleh berbagai pajanan/kontak langsung dengan pasien dan cairan-cairan dari tubuh pasien/orang lain.
Kuman-kuman yang telah menempel di tubuh kita itu memang belum tentu menyebabkan penyakit bagi kita tapi akan sangat disayangkan bila karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai insan yang berurusan dengan fasilitas kesehatan (dan pembaca awam secara umumnya), sudah selayaknya kita untuk melakukan pencegahan penyebaran penyakit yang dapat disebabkan oleh berbagai pajanan/kontak langsung dengan pasien dan cairan-cairan dari tubuh pasien/orang lain.</p>
<p>Kuman-kuman yang telah menempel di tubuh kita itu memang belum tentu menyebabkan penyakit bagi kita tapi akan sangat disayangkan bila karena kelalaian kita dalam menjaga kebersihan malah menjadi penyakit bagi orang lain.</p>
<p><span id="more-9"></span><br />
Sebagai salah satu pencegahan penyebaran penyakit yang paling sederhana adalah mencuci tangan dan mengenakan alat pengaman diri seperti sarung tangan. Hal ini lazim dilakukan di tempat-tempat pelayanan kesehatan atau di rumah.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i5.photobucket.com/albums/y181/situ_kayak_kampang/biawak/univprec_univ_prec.jpg" alt="" /></p>
<p>Namun, kita tidak melulu hidup semata-mata di fasilitas pelayanan kesehatan belaka. Kita punya rumah, kita punya keluarga untuk dikasihi, kita punya teman untuk bergaul, kita punya pacar untuk diapeli, kita kehidupan sendiri! Tetapi dalam kaitannya dengan tulisan kali ini, tentunya pencegahan penyebaran penyakit harus tetap dijalankan di manapun kita berada.</p>
<p>Mencuci tangan sebelum dan setelah makan, mencuci kaki sebelum tidur, itu sudah biasa. Apakah pembaca menyadari bahwa dalam kenyataan kehidupan sehari-hari kita, di luar waktu-waktu kita sedang bertugas, ada banyak hal kebersihan yang luput dari perhatian?</p>
<p>Menurut salah satu narasumber tersohor kita, <em>Bajingan Misterius</em> dalam kesempatan beliau mengikuti kepaniteraan di bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, salah seorang dosen menyatakan bahwa kaum pria lebih peduli kebersihan tititnya dibanding kebersihan tangannya. Terbukti dari kecenderungan kaum pria untuk panik atau marah-marah bila tidak ada air untuk membasuh tititnya dibanding bila tidak ada air untuk mencuci tangan setelah kencing.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i5.photobucket.com/albums/y181/situ_kayak_kampang/biawak/univprec_kanciang.jpg" alt="" width="258" height="323" /></p>
<p>Kebiasaan yang buruk ini cukup universal sehingga penulis mengusulkan bahwa hal ini memiliki nilai signifikan sebagai penyebab penyakit menular atau infeksi nosokomial di kota maupun di desa. Menurut pengalaman penulis, banyak tukang makanan pinggir jalan atau gerobakan yang setelah kencing tanpa babibu langsung meramu makanannya untuk disajikan kepada pembelinya. Tak terkecuali dokter pria yang sehabis kencing tidak cuci tangan lalu menyentuh pasien maupun instrumen pemeriksaan. Pertanyaan mengenai apakah ada salah satu dari pembaca yang seperti ini tentu tidak perlu dijawab.</p>
<p>Tidak hanya kebersihan pasca miksi (sehabis kencing) saja yang kadang luput dari perhatian. Bagi pembaca yang merokok, kebersihan tangan, mulut dan hidung sebelum dan sesudah merokok penting, selain sebagai upaya mengurangi kemungkinan penyebaran penyakit yang tersebar lewat udara (<em>air-borne disease</em>) macam droplet virus dan tuberkulosis juga karena pada dasarnya kita memegang rokok dengan tangan.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i5.photobucket.com/albums/y181/situ_kayak_kampang/biawak/univprec_rokok.jpg" alt="" /></p>
<p>Kemudian pernahkah pembaca berpikir, darimanakah kotoran/daki yang menempel pada gagang telepon, <em>dispenser</em> air minum, <em>mouse</em>, <em>keyboard</em> PC atau <em>joypad</em> permainan seperti <em>Playstation</em> di rumah atau tempat kerja pembaca? Kotoran/daki itu terutama berasal dari tangan, kecuali tentu bila pembaca menggunakan alat-alat itu dengan bagian tubuh lain. Dan pastinya bukan tangan pembaca saja yang menggunakan alat-alat itu, terutama di fasilitas umum seperti <em>rental</em> <em>Playstation</em>, warnet, wartel dan lab komputer kampus.</p>
<p>Bila pembaca masih berpikir bahwa hal itu tidak penting, sekarang pikirkanlah ini. Apabila alat-alat itu dipakai untuk pribadi, kotoran-kotoran yang menempel pada alat-alat itu mungkin hanya berasal berasal dari kita sendiri. Entah itu debris kulit selangkangan sehabis kita garuk, ketombe yang berasal dari rambut kepala maupun nonkepala, nanah dari pecahan jerawat atau bahkan kombinasi semuanya. Bagaimana dengan alat-alat yang dipakai untuk fasilitas umum, seperti telah disebutkan di atas macam <em>rental game</em>, warnet dan sebagainya? Tidak usah repot-repot, bagaimana dengan seseorang yang rumahnya sering dipakai untuk tempat bermain <em>Playstation</em> rame-rame macam <em>Winning Eleven</em>, misalnya oleh teman sekampus atau sekompleks?</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i5.photobucket.com/albums/y181/situ_kayak_kampang/biawak/Suasana_Rental.jpg" alt="" /></p>
<p>Apabila tidak ada kesadaran mencuci tangan maka fasilitas umum atau pribadi yang dipakai rame-rame, akan menjadi semacam tempat pertukaran kuman-kuman di tangan. Kulit selangkangan, ketombe, pecahan jerawat atau bahkan cairan-cairan dari tubuh teman akan menempel di tangan pembaca dan ketika pembaca lupa mencuci tangan lantas melahap makanan dengan tangan tanpa cuci tangan, semua akan masuk ke dalam tubuh pembaca.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i5.photobucket.com/albums/y181/situ_kayak_kampang/biawak/univprec_pegang_tangan.jpg" alt="" width="332" height="266" /></p>
<p>Dan terakhir yang menurut penulis harus mendapat perhatian adalah kebersihan dikala sedang bermesraan. Bisa dari aktivitas yang paling ringan seperti pegangan tangan hingga yang paling &#8220;berat&#8221; seperti mengeluarkan ejakulat ke muka pasangan. Dengan asumsi umum bahwa tulisan ini tidak mengajarkan bermesraan, tapi bagi pembaca yang sudah terbiasa bermesraan ada baiknya untuk menilai kembali apakah upaya pencegahan penyakit telah dilakukan sudah benar.</p>
<p>Mulai dari hal-hal sederhana seperti mencuci tangan sebelum beraksi. Masturbasi mungkin adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling nikmat. Tetapi pencegahan infeksi saluran kemih juga harus diperhatikan seperti cuci tangan sebelumnya, menggunakan cairan pelicin yang steril bila perlu, tidak menggunakan alat yang dipakai untuk umum seperti bantal tidur asrama atau pisang jatah teman dan tentunya cuci tangan serta kelamin setelah ejakulasi. Dengan demikian, tidak hanya masturbasi pembaca akan lebih bersih dan aman, tetapi juga dapat memasturbasi pasangan pembaca dengan penuh percaya diri.</p>
<p>Pembaca wanita tentu tidak mau vaginanya menjadi ladang kuman karena pasangannya gemar &#8220;bermain-main&#8221; dengan vagina pembaca dengan tangan setelah kencing, buang air besar, buang ingus, merokok, mengupil, mengambil belek, menggaruk selangkangan, main game di <em>rental</em>, main cacing di tanah tetapi belum mencuci tangan.</p>
<p>Kemudian bagi pria, bayangkan bila pasangan pembaca meminta pasangan untuk melakukan fellatio padahal pembaca sendiri belum mencuci titit setelah kencing, ini malah mengurangi kenyamanan dan tentunya menjadi risiko penyakit bagi pasangan pembaca.</p>
<p>Setelah kebersihan tangan dan kelamin untuk foreplay sudah baik, untuk selanjutnya tentu kebersihan telah terjamin selama adegan dewasa berikutnya dilakukan secara aman (safe sex) dan tidak berkutat dengan seks anal atau berkenaan dengan feses&#8230;</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i5.photobucket.com/albums/y181/situ_kayak_kampang/biawak/univprec_cium.jpg" alt="" /></p>
<p>Tetapi dari perihal bermesraan, berciuman mulut bertemu mulut adalah yang paling lazim dilakukan, paling mungkin dilakukan semua orang.</p>
<p>Mulut sebagai kuburan segala jenis mahluk hidup, tentu merupakan ladang kuman yang baik. Maka perihal kebersihan yang paling masuk akal adalah berkumur sebelum berciuman, bila perlu menggosok gigi dan menggunakan produk penghilang bau mulut.</p>
<p>Perlu juga ditilik apakah pasangan ciuman pembaca berisiko berpenyakit yang dapat ditransmisikan lewat mulut atau perdarahan selaput lendir/mukosa mulut, dari influenza hingga hepatitis. Sebaiknya pembaca tidak mengambil risiko dengan berciuman dengan seseorang yang berada dalam keadaan sakit.</p>
<p>Mumpung masih berkutat soal mulut, tentunya selain kesehatan alat kelamin, kesehatan mulut juga penting dalam proses <em>fellatio</em>. Kasihan bila titit seorang menjadi bau pete atau jengkol karena pasangannya habis makan pete atau jengkol tetapi belum kumur-kumur.</p>
<p><strong>Simpulan</strong></p>
<p>Tentu segala upaya di atas apabila dikaitkan dengan timbulnya penyakit, tidak selalu berbanding lurus dengan pencegahan yang telah dilakukan maupun ganas tidaknya penyakit itu sendiri. Faktor individu, salah satunya adalah niat dan kesadaran, jauh lebih penting dibandingkan kompleksitas dan berbagai variasi upaya pencegahan.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i5.photobucket.com/albums/y181/situ_kayak_kampang/biawak/univprec_triangle.gif" alt="" width="380" height="264" /></p>
<p><em>Segitiga Epidemiologi</em></p>
<p>Dan semuanya bisa dimulai dari pembaca, jadi jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan apapun, termasuk ketika mengakses website dan tulisan ini.</p>
<p><strong>Tertulis oleh iR</strong></p>
<blockquote><p>Topik ini pernah dimuat di BIAWAK generasi I pada bulan Juli 2006 dan berhasil ditemukan kembali serta dipublikasikan kembali pada bulan Oktober 2008.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fkui02.net/biawak/2008/10/06/universal-precautions-dalam-kehidupan-sehari-hari/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Trauma Center: Under the Knife 2 (Nintendo DS)</title>
		<link>http://fkui02.net/biawak/2008/10/05/trauma-center-under-the-knife-2-nintendo-ds/</link>
		<comments>http://fkui02.net/biawak/2008/10/05/trauma-center-under-the-knife-2-nintendo-ds/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Oct 2008 11:09:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BIAWAK</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Selayang Pandang]]></category>

		<category><![CDATA[derek styles]]></category>

		<category><![CDATA[ds]]></category>

		<category><![CDATA[game]]></category>

		<category><![CDATA[nds]]></category>

		<category><![CDATA[nintendo]]></category>

		<category><![CDATA[nintendo ds]]></category>

		<category><![CDATA[styles]]></category>

		<category><![CDATA[trauma center]]></category>

		<category><![CDATA[trauma center 2]]></category>

		<category><![CDATA[under the knife]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fkui02.net/biawak/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[It&#8217;s Eid Mubarak holiday, and finally BIAWAK has made it to finish up the latest installment of Trauma Center series, Trauma Center: Under the Knife 2 for Nintendo DS published by Atlus, and report it to you right here on FKUI02.net&#8217;s BIAWAK!


The game brought us back to the story of blessed surgeon Dr. Derek Styles [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>It&#8217;s Eid Mubarak holiday, and finally BIAWAK has made it to finish up the latest installment of Trauma Center series, <strong>Trauma Center: Under the Knife 2</strong> for Nintendo DS published by Atlus, and report it to you right here on FKUI02.net&#8217;s BIAWAK!</p>
<p><img style="border: 0pt none ;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/2008_oct_5/utk2ratedpromo.jpg" alt="North American cover of the game" width="319" height="287" /></p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p>The game brought us back to the story of blessed surgeon Dr. Derek Styles with his fellow teammates of Caduceus, an organization established to fight against medicine terrorist acts (sounds prospective for us&#8230; just kidding), battling a deadly plague known as GUILT (Gangliated Utrophin Immuno Latency Toxin).</p>
<p>Not much different to its preceding games, you&#8217;ll be performing many surgical procedures with your scalpel, antibiotic applicant, forceps, surgical laser, syringe, drain, sutures, using your stylus within certain limiting condition. This would make the game were more like speed puzzle solving game rather than a surgery simulation.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/2008_oct_5/trauma-center-under-the-knife-2--1.jpg" alt="" width="213" height="320" /></p>
<p>That is because of the story were basically fictional, so you would expect to see many impossible surgical procedures, such as performing skin graft operation to 3 different patients within 5 minutes (emergency skin graft&#8230; yeah right), battling GUILT which was &#8220;swimming&#8221; around the patient&#8217;s liver with your surgical laser, extracting 6 to 8 immediately recurring hyperbenign heart lesions within 5 minutes, and so on. But there are still many procedures that is quite real enough to happen in real life, such as performing complicated cholecsystectomy, internal fixation on broken arm inside a chased car, and so on, so at least you would feel real enough of being a surgeon in this game.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/2008_oct_5/trauma-center-under-the-knife-2-200.jpg" alt="" width="213" height="320" /></p>
<p><em>That&#8217;s 9 lesions for you to treat, and it&#8217;s in the beginning of the operation&#8230;</em></p>
<p>The other aspect of the game such as sounds and graphics were absolutely superb. Heart pumping music and voices from your co-operator should add the suspense of your lifesaving operations. The graphics were significantly improved compared to its prequel, as the characters were completely redrawn (in a more Atlus&#8217; style) and the operation interface would remind you to the Wii version of the game (Trauma Center: Second Opinion).</p>
<p>Just try this game already, even if you insist of more realistic surgery game.</p>
<p><strong>(Written by iR)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fkui02.net/biawak/2008/10/05/trauma-center-under-the-knife-2-nintendo-ds/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Nyeleneh Mahasiswa FKUI</title>
		<link>http://fkui02.net/biawak/2008/08/04/blog-nyeleneh-mahasiswa-fkui/</link>
		<comments>http://fkui02.net/biawak/2008/08/04/blog-nyeleneh-mahasiswa-fkui/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 13:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BIAWAK</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Selayang Pandang]]></category>

		<category><![CDATA[Semerta-merta]]></category>

		<category><![CDATA[blog kedokteran]]></category>

		<category><![CDATA[fkui]]></category>

		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>

		<category><![CDATA[septo sulistio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fkui02.net/biawak/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[BIAWAK kini kembali lagi untuk melaporkan pengamatan selama penulis menelusuri dunia maya dan meraba-raba berbagai blog yang membahas dunia mahasiswa kedokteran khususnya FKUI.
Pada prinsipnya, kedua blog ini disusun untuk mengemukakan kepada dunia betapa kehidupan sebagai mahasiswa FKUI memiliki keunikan tertentu, baik itu dari segi materi perkuliahan, situasi perkuliahan dan dinamika sosial dalam lingkungan kampusnya.

Langsung saja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BIAWAK kini kembali lagi untuk melaporkan pengamatan selama penulis menelusuri dunia maya dan meraba-raba berbagai <em>blog</em> yang membahas dunia mahasiswa kedokteran khususnya FKUI.</p>
<p>Pada prinsipnya, kedua <em>blog</em> ini disusun untuk mengemukakan kepada dunia betapa kehidupan sebagai mahasiswa FKUI memiliki keunikan tertentu, baik itu dari segi materi perkuliahan, situasi perkuliahan dan dinamika sosial dalam lingkungan kampusnya.</p>
<p><span id="more-6"></span></p>
<p>Langsung saja, pada kesempatan ini penulis akan melaporkan dua <em>blog</em> mahasiswa FKUI yang memiliki sifat nyeleneh, lain daripada yang diharapkan&#8230; Untuk yang ingin di-<em>review</em> oleh BIAWAK, silakan kepada sejawat mahasiswa FKUI untuk tinggalkan komentar dan pastikan <em>blog</em> tersebut dinilai lain daripada yang lain.</p>
<p><a title="BADAN GOLGI FKUX JAKARTA" href="http://badangolgi.blog.com/" target="_blank"><strong>BADAN GOLGI FKUX JAKARTA</strong></a></p>
<p>Penulis mendapatkan <em>blog</em> ini dari seorang informan penulis di FKUI angkatan 2007. <em>Blog</em> yang dikelola oleh Badan Golongan Gila (BADAN GOLGI) ini membahas dinamika perkuliahan pada tahap preklinik, seperti karakteristik <em>civitas academica</em> FKUI (<em>kagak usah pake disensor lagi kali</em>) serta informasi seperti buku-buku pegangan wajib.</p>
<p>Penyampaian materi dalam <em>blog</em> ini cukup sederhana dan menggunakan bahasa sehari-hari, tidak berpusing-pusing dengan kalimat introduktif seperti yang dilakukan BIAWAK (hehehehe). Beberapa wacana disuguhkan cukup berani tetapi masih <em>nanggung</em> seperti karakteristik mahasiswa yang tipikal mahasiswa FK dan karakteristik mahasiswa yang tipikal anak masjid. Sayangnya <em>review</em> buku tidak dilengkapi gambar (atau tepatnya sekujur <em>blog</em> ini tidak memiliki gambar sama sekali), sehingga ditambah dengan <em>background</em> warna hijau menyala cukup membuat termuntah-muntah apabila membaca terlalu lama.</p>
<p>Secara umum menurut penulis, <em>blog</em> ini cukup prospektif untuk memberitakan kepada dunia mengenai betapa uniknya kehidupan mahasiswa FKUI.  Hanya saja baiknya ditambahkan halaman <em>profile</em> untuk menunjukkan siapa saja kru dari BADAN GOLGI tersebut.</p>
<p><a title="Asthmatic Mammae" href="http://paseban.blogspot.com/" target="_blank"><strong>ASTHMATIC MAMMAE</strong></a></p>
<p><em>Blog</em> berbasis Blogspot ini dinakhodai oleh rekan FKUI angkatan 2003, Septo Sulistio. Nampaknya blog ini  menggambarkan kehidupan mahasiswa FKUI terutama dari mereka yang sehari-hari hidup sebagai mahluk kos-kosan di daerah Paseban, Jakarta Pusat. Materi yang disampaikan dalam <em>blog</em> ini cukup informatif, mulai dari persoalan farmakologi hingga yang sepele seperti uraian mengenai sindrom mahasiswa kedokteran.</p>
<p>Dari segi desain, mau tak mau saudara Septo harus pasrah dengan desain sederhana yang ditawarkan oleh Blogspot, tetapi hal ini dapat diakali dengan tulisan-tulisan yang juga dihiasi oleh gambar serta <em>widget</em> di sebelah kanan layar yang cukup menghibur seperti <em>shoutbox</em>&#8230; saja.</p>
<p>Demikian laporan <em>draft</em> pertama dari BIAWAK mengenai <em>blog</em> nyeleneh para mahasiswa FKUI. Untuk selanjutnya, silakan tinggalkan komentar di bawah.</p>
<p><strong>Tertulis oleh iR</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fkui02.net/biawak/2008/08/04/blog-nyeleneh-mahasiswa-fkui/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BIAWAK (Varanus sp) sebagai Obat&#8230;?</title>
		<link>http://fkui02.net/biawak/2008/06/13/biawak-varanus-sp-sebagai-obat/</link>
		<comments>http://fkui02.net/biawak/2008/06/13/biawak-varanus-sp-sebagai-obat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 16:21:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BIAWAK</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Alternative Medicine]]></category>

		<category><![CDATA[Semerta-merta]]></category>

		<category><![CDATA[alternatif]]></category>

		<category><![CDATA[biawak]]></category>

		<category><![CDATA[khasiat]]></category>

		<category><![CDATA[kulit]]></category>

		<category><![CDATA[obat]]></category>

		<category><![CDATA[pengobatan]]></category>

		<category><![CDATA[penyembuhan]]></category>

		<category><![CDATA[perkasa]]></category>

		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<category><![CDATA[sembuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fkui02.net/biawak/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[BIAWAK dikejutkan malam ini ketika sedang mengadakan olah kata kunci (keywords) dari search-engine yang merujuk kepada website BIAWAK ini.
Salah satunya yang menarik perhatian adalah keywords &#8220;pemanfaatan biawak dalam pengobatan&#8221;
HAH?

Biawak diikat sebelum diberdayakan (sumber: Papuaweb.org)
Penulis pun penasaran dengan apa manfaat biawak dalam dunia pengobatan. Setelah melakukan pencarian di dunia maya dengan bantuan search-engine tertentu kini dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BIAWAK dikejutkan malam ini ketika sedang mengadakan olah kata kunci (<em>keywords</em>) dari <em>search-engine</em> yang merujuk kepada <em>website</em> BIAWAK ini.</p>
<p>Salah satunya yang menarik perhatian adalah keywords <strong>&#8220;pemanfaatan biawak dalam pengobatan&#8221;</strong></p>
<p>HAH?<br />
<span id="more-4"></span><img style="border: 0pt none;" src="http://www.papuaweb.org/gb/foto/muller/ecology/10/12.jpg" alt="Biawak diikat" width="330" height="268" /><br />
Biawak diikat sebelum diberdayakan (sumber: Papuaweb.org)</p>
<p>Penulis pun penasaran dengan apa manfaat biawak dalam dunia pengobatan. Setelah melakukan pencarian di dunia maya dengan bantuan <em>search-engine</em> tertentu kini dapat diketahui bahwa biawak, atau dalam bahasa Inggris kerap disebut <em>monitor lizard</em> atau dalam nomenklatur latin memiliki genus <em>Varanus</em>, memiliki berbagai khasiat seperti:</p>
<ul>
<li>Obat eksim. Dengan cara menggoreng lemak biawak untuk mendapatkan<br />
minyaknya. Setelah didinginkan, oleskan minyak tersebut pada eksim yang telah dibersihkan<br />
terlebih dahulu dengan air panas.</li>
<li>Obat keperkasaan. Biasalah, entah bagaimana hewan yang kurang khas untuk dimakan seperti biawak, trenggiling, monyet dan kalong dipercaya sebagai obat keperkasaan dalam konteks urusan libido.</li>
</ul>
<p>Yang kini jadi pertanyaan bagi penulis adalah:</p>
<ul>
<li>Dalam rangka apa orang-orang mencari-cari literatur manfaat biawak dalam pengobatan?</li>
<li>Terlepas dari hidangan biawak memang tersedia di tempat-tempat tertentu, dengan cara apa orang-orang yang mencari literatur tersebut akan menangkap biawak? Hanya demi sebongkah lemak biawak..?</li>
</ul>
<p>Tentunya bila bicara pengobatan alternatif, tidak akan lepas dari kontroversi. Para dokter pasti lebih condong kepada dunia pengobatan modern yang terbukti secara ilmiah, sementara pasien yang biasanya sudah berada di penyakit tahap lanjut akan mencari segala cara untuk dapat menyembuhkan penyakitnya itu.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://www.temanmakan.com/img.php?display=menus&amp;f(583427038464a8cd18e8e5.jpg)w(308)h(209)" alt="Sop Biawak..." width="308" height="209" /><br />
Sop Biawak (sumber: temanmakan.com)</p>
<p>Namun segala sesuatu yang berkenaan dengan tujuan pengobatan harus dipertimbangkan manfaat dan kerugiannya. Pertimbangan ini tidak saja melulu berkenaan dengan efek dari pengobatan itu sendiri (yang memang belum jelas) tetapi juga mengenai pertimbangan kesetimbangan ekologi dan hukum perundang-undangan.</p>
<p>Organisasi WWF mengelompokkan benda-benda ajaib yang diyakini berkhasiat ini sebagai <em>Traditional Chinese Medicine </em>(TCM) walaupun dalam kasus ini, pemanfaatan biawak di dalam negeri dapat saja berkembang sendiri sebelum kebudayaan Cina masuk ke tanah air.</p>
<p>TCM ini memang dalam propagandanya selalu mengutamakan betapa bahan yang mereka buat adalah murni dari alam, ya itu tadi seperti lemak biawak, otak monyet, empedu kobra, jidat hiu dan sebagainya yang telah digunakan secara turun temurun. Tetapi kalau bicara soal khasiat, sangat sedikit sekali telah dilakukan penelitian yang sesuai kaidah ilmiah untuk merasionalisasi penggunaan bahan-bahan TCM tersebut. Di lain pihak, bahan-bahan yang sudah digunakan turun-temurun tersebut, tentu saja, mulai terancam punah. Maka wajar saja bila TCM dijual dengan harga yang mengejutkan dibandingkan obat-obat modern.</p>
<p>Untuk itu, melalui tulisan ini penulis mengharapkan kepada para peneliti untuk melakukan penelitian terhadap TCM, apakah memang benar bermanfaat atau tidak, untuk kemudian dapat ditentukan seberapa bermanfaat suatu spesies dari TCM digunakan sebagai pengobatan dan dilakukan pembudi dayaan spesies yang bermanfaat sehingga tidak terjadi kepunahan yang tidak diinginkan.</p>
<p>Kasihan para biawak itu.</p>
<p><strong>Tertulis oleh iR</strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ul>
<li><a title="WWF Wildlife Trade" href="https://secure.worldwildlife.org/trade/faqs_tcm.cfm" target="_blank">Wildlife Trade,  FAQs on Traditional Chinese Medicine Trade</a></li>
</ul>
<p><strong>Link aneh-aneh yang penulis temukan selama melakukan penelusuran:</strong></p>
<ul>
<li><a title="Tepis penyakit atau dongkrak libido?" href="http://aergot.wordpress.com/2008/02/22/tepis-penyakit-atau-dongkrak-libido/" target="_blank">Tepis penyakit atau dongkrak libido?</a></li>
<li><a title="Menikmati Biawak" href="http://surabayamuda.com/?p=14" target="_blank">Menikmati Biawak</a></li>
<li><a title="Manfaat Lemak Biawak" href="http://www.tipsmanfaat.com/manfaat-lemak-biawak.html" target="_blank">Manfaat Lemak Biawak</a></li>
<li> <a title=" Istana Raja Kobra" href="http://www.temanmakan.com/makanunik.html,1,30" target="_blank"><span class="makanunik_title"> Istana Raja Kobra</span></a></li>
<li><a title="Uganda: Ugandans Turn to Lizard Blood for Aids Cure" href="http://allafrica.com/stories/200801281596.html" target="_blank">Uganda: Ugandans Turn to Lizard Blood for Aids Cure</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fkui02.net/biawak/2008/06/13/biawak-varanus-sp-sebagai-obat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>LifeSigns: Surgical Unit (Nintendo DS)</title>
		<link>http://fkui02.net/biawak/2008/06/08/lifesigns-surgical-unit-nintendo-ds/</link>
		<comments>http://fkui02.net/biawak/2008/06/08/lifesigns-surgical-unit-nintendo-ds/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 13:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BIAWAK</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Selayang Pandang]]></category>

		<category><![CDATA[ds]]></category>

		<category><![CDATA[game]]></category>

		<category><![CDATA[lifesigns]]></category>

		<category><![CDATA[medic]]></category>

		<category><![CDATA[medical]]></category>

		<category><![CDATA[medicine]]></category>

		<category><![CDATA[nintendo]]></category>

		<category><![CDATA[surgeon]]></category>

		<category><![CDATA[surgery]]></category>

		<category><![CDATA[videogame]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fkui02.net/biawak/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[
(Picture hosted by Jogaste.br)
Published by DreamCatcher Games, LifeSigns: Surgical Unit (Nintendo DS) gives you a story about young surgical intern Tendo Dokuta on Seimei Medical University Hospital as he deal with mostly surgical cases along with his colleagues. The main gameplay quickly reminds you to the similar 2005 release game of Trauma Center: Under the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jogaste.com.br/web/caixa/lifesigns-surgical-unit-ds.jpg" alt="LifeSigns: Surgical Unit (Nintendo DS)" width="362" height="335" /><br />
(Picture hosted by Jogaste.br)</p>
<p>Published by DreamCatcher Games, LifeSigns: Surgical Unit (Nintendo DS) gives you a story about young surgical intern Tendo Dokuta on Seimei Medical University Hospital as he deal with mostly surgical cases along with his colleagues. The main gameplay quickly reminds you to the similar 2005 release game of Trauma Center: Under the Knife (Nintendo DS),  in which you would use the stylus to perform the operation procedures. You would also involved in many conversations, which remind you to Phoenix Wright series (Nintendo GBA &amp; DS).</p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p>But unlike Trauma Center and Phoenix Wright series, playing as Tendo-san, your involvement in many conversations and situations would affect the storyline, some of alternatives even might ended up as bad ending. This would include much stressing mini games that is clearly unrelated to medical matters. You were also required to do some history taking and physical examinations, even radio-graphic examinations, to conclude your diagnosis.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/2008_0806_lssu/s31241_nds_10.jpg" alt="Physical examination by palpating the lesion" width="240" height="384" /> <img style="border: 0pt none;" src="http://i153.photobucket.com/albums/s232/fkui_02/2008_0806_lssu/1.jpg" alt="Physical examination by ........ hearing the breath sound.. hm.." width="256" height="384" /></p>
<p>Most of the ca