BIAWAK (Varanus sp) sebagai Obat…?
June 13th, 2008
BIAWAK dikejutkan malam ini ketika sedang mengadakan olah kata kunci (keywords) dari search-engine yang merujuk kepada website BIAWAK ini.
Salah satunya yang menarik perhatian adalah keywords “pemanfaatan biawak dalam pengobatan”
HAH?

Biawak diikat sebelum diberdayakan (sumber: Papuaweb.org)
Penulis pun penasaran dengan apa manfaat biawak dalam dunia pengobatan. Setelah melakukan pencarian di dunia maya dengan bantuan search-engine tertentu kini dapat diketahui bahwa biawak, atau dalam bahasa Inggris kerap disebut monitor lizard atau dalam nomenklatur latin memiliki genus Varanus, memiliki berbagai khasiat seperti:
- Obat eksim. Dengan cara menggoreng lemak biawak untuk mendapatkan
minyaknya. Setelah didinginkan, oleskan minyak tersebut pada eksim yang telah dibersihkan
terlebih dahulu dengan air panas. - Obat keperkasaan. Biasalah, entah bagaimana hewan yang kurang khas untuk dimakan seperti biawak, trenggiling, monyet dan kalong dipercaya sebagai obat keperkasaan dalam konteks urusan libido.
Yang kini jadi pertanyaan bagi penulis adalah:
- Dalam rangka apa orang-orang mencari-cari literatur manfaat biawak dalam pengobatan?
- Terlepas dari hidangan biawak memang tersedia di tempat-tempat tertentu, dengan cara apa orang-orang yang mencari literatur tersebut akan menangkap biawak? Hanya demi sebongkah lemak biawak..?
Tentunya bila bicara pengobatan alternatif, tidak akan lepas dari kontroversi. Para dokter pasti lebih condong kepada dunia pengobatan modern yang terbukti secara ilmiah, sementara pasien yang biasanya sudah berada di penyakit tahap lanjut akan mencari segala cara untuk dapat menyembuhkan penyakitnya itu.
w(308)h(209))
Sop Biawak (sumber: temanmakan.com)
Namun segala sesuatu yang berkenaan dengan tujuan pengobatan harus dipertimbangkan manfaat dan kerugiannya. Pertimbangan ini tidak saja melulu berkenaan dengan efek dari pengobatan itu sendiri (yang memang belum jelas) tetapi juga mengenai pertimbangan kesetimbangan ekologi dan hukum perundang-undangan.
Organisasi WWF mengelompokkan benda-benda ajaib yang diyakini berkhasiat ini sebagai Traditional Chinese Medicine (TCM) walaupun dalam kasus ini, pemanfaatan biawak di dalam negeri dapat saja berkembang sendiri sebelum kebudayaan Cina masuk ke tanah air.
TCM ini memang dalam propagandanya selalu mengutamakan betapa bahan yang mereka buat adalah murni dari alam, ya itu tadi seperti lemak biawak, otak monyet, empedu kobra, jidat hiu dan sebagainya yang telah digunakan secara turun temurun. Tetapi kalau bicara soal khasiat, sangat sedikit sekali telah dilakukan penelitian yang sesuai kaidah ilmiah untuk merasionalisasi penggunaan bahan-bahan TCM tersebut. Di lain pihak, bahan-bahan yang sudah digunakan turun-temurun tersebut, tentu saja, mulai terancam punah. Maka wajar saja bila TCM dijual dengan harga yang mengejutkan dibandingkan obat-obat modern.
Untuk itu, melalui tulisan ini penulis mengharapkan kepada para peneliti untuk melakukan penelitian terhadap TCM, apakah memang benar bermanfaat atau tidak, untuk kemudian dapat ditentukan seberapa bermanfaat suatu spesies dari TCM digunakan sebagai pengobatan dan dilakukan pembudi dayaan spesies yang bermanfaat sehingga tidak terjadi kepunahan yang tidak diinginkan.
Kasihan para biawak itu.
Tertulis oleh iR
Referensi:
Link aneh-aneh yang penulis temukan selama melakukan penelusuran:
Leave a Reply